Buku Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia


Buku ini saya baca versi ebook nya sebanyak kira-kira 38 halaman, ada versi lain mengatakan bahwa buku ini memiliki tebal 80 halaman. Membaca buku ini saya sendiri tidak begitu mempercayai, namun melihat keadaan Indonesia, rasa-rasanya apa yang dikatakan Ransom pada buku ini cukup masuk di akal.

Pada bagian bawah saya sertakan link download buku ini, sebelumnya ada beberapa istilah/nama serta resensi yang mungkin mendukung memahami bacaan ini. Berikut beberapa istilah / nama yang berhubungan di buku ini :

David Ransom seorang warga Negara Amerika lulusan Havard yang menjadi anggota dari Pasific Studies Center. Sekedar informasi bahwa Pasific Studies Center adalah merupakan lembaga pusat studi masalah-masalah yang terkait dengan wilayah pasifik, sedangkan posisi dari David Ransom di lembaga itu sendiri dikhususkan untuk mempelajari Indonesia

Koalisi Anti Utang (KAU) adalah koalisi masyarakat sipil se Indonesia yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat (organisasi petani, mahasiswa, lingkungan, perempuan, masyarakat adat, buruh, ornop, organisasi keagamaan, akademisi, dan lain-lain) serta individu yang peduli dengan masalah utang luar negeri.

Marshall Plan (Program pemulihan Eropa) adalah suatu program negara Amerika Serikat (AS) pada tahun 1947-1951 untuk memperkuat dan membangun kembali perekonomian negara-negara Eropa. Program ini dicetuskan oleh sekertaris Presiden Harry Truman yaitu George Marshall The Marshall Plan

Mafia Berkeley adalah adalah julukan yang diberikan kepada sekolompok menteri bidang ekonomi dan keuangan, yang menentukan kebijakan ekonomi Indonesia di masa awal pemerintahan Presiden Suharto.

Resensi

Buku MAFIA BERKELEY DAN PEMBUNUHAN MASSAL DI INDONESIA

Penulis David Ransom

Diterbitkan Tahun 2006 (Koalisi Anti Utang)

Koalisi Anti Utang (KAU) menyoroti kebijakan utang luar negeri pemerintah Indonesia yang telah dimulai sejak jaman kemerdekaan. Menurut KAU, utang selalu diikuti intervensi asing ke dalam kebijakan dalam negeri Indonesia. Salah satunya ketika AS memaksa Indonesia untuk keberadaan pemerintahan Bao Dai di Vietnam. Karena tuntutan tersebut tidak segera dipenuhi, pemberian pinjaman itu akhirnya tertunda pencairannya (Weinstein, 1976: 210).

Trend utang pasca kemerdekaan mulai terhenti melalui istilah terkenal “Go to hell with your Aid” yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno. Masuk akal jika akhirnya isu keterlibatan asing (baca : CIA) dalam proses kejatuhan Soekarno santar dalam scenario G30SPKI.

Peranan 2 (dua) Aristokrat Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo dan Sudjatmoko, pasca kemerdekaan Indonesia. Indonesia yang diakui Belanda secara politik dalam meletakkan konsep dan kerangka pikir untuk pembangunan Bangsa Indonesia.

Keterlibatan Universitas terkenal di Negara-negara barat (MIT, Cornell, Berkeley, dan Harvard) untuk mencetak ahli-ahli yang namanya juga dipromosikan oleh kalangan barat cukup strategis untuk mencekoki paham “liberalis” kepada kepala calon-calon pemimpin Indonesia. Bahkan menurut Buku ini, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (dengan seorang Dekan bernama Soemitro Djojohadikusumo) pun disulap untuk turut mencekoki paham-paham ekonomi barat.

SESKOAD (Sekolah untuk para perwira angkatan darat) dipandang sebagai salah satu tempat bagi tangan-tangan Berkeley. Mengirimkan sejumlah perwira menengah ke luar negeri untuk berlatih. Ketika kembali, perwira-perwira ini yang akan menjadi pemimpin-pemimpin untuk menghadapi ideologi sosialis / komunis yang tidak menguntungkan barat.

Pada bab III “Harvard, semuanya dibawa pulang” saya menemukan mengapa kesejahteraan bangsa Indonesia begitu sulit tercapai, mengapa semua terlihat benar dari sisi ilmu ekonomi, mengapa saat ini tempat-tempat “basah” dan menghasilkan uang banyak dikuasai Negara asing?

Buku yang diterbitkan KAU ini bisa saja sebuah buku provokatif, tidak memiliki data valid dan banyak merupakan isu-isu rekayasa. Tetapi membaca buku ini dan melihat keadaan bangsa Indonesia, sungguh memiliki korelasi kuat bukan?

Adalah baik jika tidak melihat personal-personal di dalam buku ini sebagai permasalahan, misalkan dengan menuding Soemitro, Jenderal AD, Soedjatmoko atau Soeharto sekalipun sebagai peletak dasar Mafia Berkeley di Indonesia. Lebih baik untuk menatap waktu-waktu ke depan mengenai kebijakan-kebijakan pro kapitalisme yang sering dibuat oleh para pemimpin negara ini.

Hajat Pemilu 5 tahun sekali begitu murah jika harus disogok dengan BLT (Bantuan Langsung Tunai), JAMKESMAS, PNPM, dan sejumlah program lain yang sejatinya hanya mengeluarkan receh-receh jika dibandingkan dengan bongkahan-bongkahan ’emas’ yang dibawa ke luar negeri oleh pihak Asing.

Salah satu ucapan paling membuat saya ‘bergidik’ di buku ini :

“Kejadian di Indonesia pada tahun 1965 adalah merupakan kejadian terbaik lagi kepentingan Uncle Sam (Amerika Serikat – Pen) sejak Perang Dunia II”

LINK DOWNLOAD EBOOK

 

Salam Romailprincipe

4 thoughts on “Buku Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia

  1. santi

    indonesia tidak akan pernah maju selagi eknomomnya adalah mafia barkley
    harus ada pemikiran ekonomi alternatif dari yang disodorkan ekonom mafia barkley

    Suka

    Balas
  2. aceh pungo

    hahahhahahah …… walaupun begitu itu guru besar kalian semua ..
    hahahah … soeharto taik,,, haram jadah, aneuk bajeung, kaplat,, binatang, kau harus menanggung semua pembantaian di aceh dan daerah lain nya ….

    Suka

    Balas
  3. Ping balik: Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia | Bayt al-Hikmah Institute

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s