Melihat kritikan kepada Twit orang lain


Kemarin 29 September 2010 malam, di situs microblogging twitter ramai oleh kritik terhadap pernyataan Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring. Kritik itu diawali oleh twitt sang menteri tentang topik “Penyebarab Isu HIV dan AIDS”. Kemungkinan topik ini sendiri menjadi hangat berkaitan dengan penyelenggaraan festival film Q yang banyak bertema Gay/Lesbian. Twit pak Tif seperti yang dapat dilihat pada Timeline 1-6 sebagai berikut :

1. Cegahlah diri anda dan keluarga dari penularan virus HIV/AIDS. Angka2 penderita dan penularannya selalu meningkat tajam setiap tahunnya.

2. MI 12/11/2009: “Penyebab HIV/AIDS dr Kaum Gay Meningkat Tajam”. Kata dokter: perilaku seks yg menyimpang adalah sbg penular virus tsb

3. Kata Al-Qur’an: Allah swt membalikkan bumi kaum nabi Luth, pelaku homoseks, menghujani mrk dngn batu, dari tanah yg terbakar QS 11:81-82

4. Penularan virus HIV/AIDS harus dicegah, juga penularan perilaku2 yg potensial membawa virus2 tsb. Sampai kini obat AIDS belum ditemukan

5. Kata Prof. Sujudi, mantan menteri kesehatan, agar mudah diingat singkatannya AIDS=Akibat Itunya Dipakai Sembarangan

6. Kata seorang Kiyai, jika melihat kemungkaran diam saja, itu sama spt syaithanul akhlash, maksudnya syetan gagu. Maka cegahlah kmungkaran

Sumber dari twitter @tifsembiring kemungkinan sekitar jam 21:00. Berikut adalah gambar TimeLine pak Tif :

Statemen yang dianggap memojokkan kaum Gay/Lesbian ini seolah-olah menyatakan bahwa perilaku seks menyimpang adalah penyebab utama dari meningkatnya penderita HIV atau AIDS. Lebih jauh lagi, kecaman dari sisi kitab suci tentang peristiwa Nabi Luth semakin membuat posisi kaum Gay/Lesbian semakin tersudut.

Pada malam hari statemen ini banyak di “counter”, semisal dengan menyatakan bahwa penggunaan jarum suntik adalah penyebab paling utama dari penyebaran HIV dan AIDS. Ada juga yang menantang Pak Tif untuk berdebat mengenai HIV dan AIDS. Ada yang merasa statemen “AIDS = Akibat Itunya Dipakai Sembarangan” adalah statemen yang tidak pantas keluar dari seorang menteri. Malam tadi Pak Tif seolah menjadi sasaran empuk bagi pengkritik.

Pengkritik cukup menghabiskan banyak energi untuk mengkritik Bapak Menteri ini. Kira-kira satu akun yang memang tidak suka dengan twit pak tif, bisa menghabiskan lebih dari 10 twit untuk mengkritik. Tidak heran, sejak rencana blokir situs porno oleh Pak Tif yang dianggap banyak orang usaha sia-sia dan usaha mengendalikan media internet (kemungkinan bisa seperti Cina).

Lalu ada apa dengan kritikan ini? Setiap orang bebas berkicau di twitland, begitu bebas sampai terkadang penyebaran berita atau asumsi yang dipakai bisa jadi menyesatkan. Mencoba netral atau objektif merupakan sikap yang menolong dari kesesatan (selain sikap tidak peduli atau apatis). Posisi Pak Tif sebagai menteri membuat statemen kontroversi nya disorot banyak orang terutama follower nya sekitar 89.000 tadi malam (pagi ini sudah 90.000), jadi sah-sah saja orang mengkritik dalam kebebasan twit itu sendiri.

Mengaku kesalahan dan menjelaskan konteks twit adalah salah satu hal baik yang bisa dilakukan. Namun apa daya, posisi Menkominfo yang mendapat raport merah dari UKP4 membuat posisi Pak Tif sedang dalam posisi rawan “degradasi”. Jadi permohonan maaf bisa jadi sama dengan merobek-robek lembar ujian perbaikan?Merunut lebih jauh lagi, posisi Menkominfo ini ditempati eks ketua umum partai, yang menurut saya bisa jadi adalah tawar-menawar karena posisi Wapres disabet Pak Boediono (ada HNW yang ditawarkan PKS jadi wapres 2009 untuk di push jadi RI-1 pada 2014?). Maka posisi Menkominfo adalah posisi strategis yang dminta, untuk kepentingan salah satu kelompok di Indonesia? Bisa jadi kan, jadi sah-sah saja untuk penggunaan jabatan/posisi ini untuk misi tertentu.

Selesai pada topik twit Pak Tif. Melihat lebih jauh lagi, seberapa sering kita mengkritik? Seberapa sering juga orang apatis yang mengkritik si tukang mengkritik? Statemen seperti “Ngapain sih nulis kayak gitu, kayak kurang kerjaan aja” atau “Apa pun kamu tulis tidak mampu mengubah apapun” serta sejumlah statemen “tawar” dari orang apatis, sama saja menjadikan dirinya “tukang kritik” baru? Lebih baik membiarkan kebebasan itu berjalan dalam kaidah-kaidah masing-masing, tidak perlu resah atau memojokkan dan menertawakan  twit orang lain. Sedikit berbeda jika twit dilakukan oleh public figure.

Jadi, mari berlatih mendengarkan dan berbeda pendapat!Berkicaulah sebelum kicau itu dilarang.

Romailprincipe

3 thoughts on “Melihat kritikan kepada Twit orang lain

  1. Ping balik: Delapan bulan setelah 100.000 hits « Romailprincipe Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s