Perbudakan berkedok karir di Indonesia


Memiliki karir yang cemerlang merupakan salah satu hal yang diidam-idamkan banyak karyawan di tempat pekerjaannya. Kerja keras dan penuh dedikasi serta hasil memuaskan bagi atasan merupakan suatu indikator performance seorang karyawan.

Tidak heran demi mencapai kualitas yang digambarkan tadi begitu banyak karyawan yang rela melakukan segala hal dan malahan terkadang mengorbankan beberapa hal yang cukup penting dalam kehidupannya.

Salah satu peritel besar asal luar negeri memiliki jargon “Saya membayar gaji anda bukan hanya membayar waktu dan kemampuan anda, tetapi juga membayar waktu anda untuk keluarga dan kehidupan sosial anda!”

Uniknya terdapat ratusan artikel motivasi yang mendoktrinasi bahwa bekerja dipengaruhi “prinsip cara pandang” yang menyatakan bahwa mental menjadi budak (ketika kita merasa diperbudak karir), atau mental menjadi atasan (ketika bisa mengelola seluruh pekerjaan dengan baik).

Jadi karir atau pekerjaan kita sangat tergantung cara pandang dari karyawan sendiri, bagaimana menyikapi dan menanggapi setiap kejadian dalam lingkungan kerja.Saya setuju dengan pernyataan itu, namun melalui tulisan ini saya ingin sedikit menyeimbangkan “prinsip cara pandang” ala motivator dan trainer supaya tidak ditelan bulat-bulat.

Membangun karir, bisa jadi mengorbankan banyak hal yang dimiliki. Waktu, keluarga, kehidupan sosial dan masih banyak lagi. Tidak ada lagi 8 jam kerja Senin sampai dengan Jumat, karena keharusan bekerja di luar-luar waktu tersebut.

Tanyakan lagi ke dalam hati nurani kita, apakah benar dalam membangun karir anda rela mengorbankan beberapa hal di atas? Jawabannya bisa bervariasi. Kali ini saya berada dalam pihak yang menjawab “Ya, tentu saja. Saya dibayar perusahaan ini dan saya akan mengorbankan beberapa hal demi kepentingan perusahaan”.  Hmmm, apa benar dalam membangun karir banyak hal yang harus dikorbankan?

Untuk para karyawan yang mengejar karir dengan mengorbankan banyak hal yang lebih prioritas (semisal waktu untuk anak dan keluarga), saya jadi teringat tentang prinsip perbudakan di masa lalu. Wikipedia mengartikan Perbudakan sebagai berikut

Perbudakan adalah sebuah kondisi di mana terjadi pengontrolan terhadap seseorang (disebut budak) oleh orang lain. Perbudakan biasanya terjadi untuk memenuhi keperluan akan buruh atau kegiatan seksual. Para budak adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tiada punya hak asasi manusia. “Slave” berasal dari perkataan slav, yang merujuk kepada bangsa Slavia yang tiada berharta dari Eropa Timur, termasuk Kekaisaran Romawi. Namun sistem perbudakan ini telah ada sejak berabad lamanya. Misalnya piramida di Mesir, telah dibangun oleh golongan ini. Selain itu, bukan semua budak tiada hak. Misalnya waktu zaman pemerintahan Islam, kebanyakan budak telah diberi layanan yang sama rata oleh tuannya. Malah salah satu orang pertama yang memeluk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun) ialah Bilal bin Rabah yang merupakan seorang budak.”

Tentunya bagi para trainer atau motivator akan mengatakan cara pandang saya adalah cara pandang “budak” dan saya kurang memiliki sikap positif dalam menanggapi lingkungan kerja. Boleh saja memberi penilaian seperti itu, karena saya memang melihat pekerja dan karyawan (termasuk saya) sudah mulai menjadi “budak” bagi perusahaan.

Betapa segala hal berupa tugas dan pekerjaan menyedot kapasitas begitu besar, dan mulai merusak sendi-sendi kehidupan sosial saya yang seharusnya merupakan “hak asasi” saya, yang tidak boleh diganggu oleh kepentingan perusahaan.

Lalu apakah tidak boleh mengejar karir dan prestasi istimewa dan excellent dalam pekerjaan di kantor? Apakah tidak boleh mendapat kenaikan atau promosi jabatan karena prestasi yang mengagumkan dan di atas rata-rata? Tentu saja bisa, dan sayangnya hal-hal itu kebanyakan bisa dikejar dan dicapai dengan cara-cara luar biasa. Untuk mendapatkan hasil luar biasa, diperlukan cara-cara yang luar biasa bukan?

Bagaimana dengan anda, apakah merasa diperbudak oleh karir?

6 thoughts on “Perbudakan berkedok karir di Indonesia

  1. udienroy

    Intinya kita hidup hanya untuk kerja ya? Tak peduli waktu dan lingkungan, ia juga sih jagi boleh lebih dari cukup. Tapi mau di apain? Wong kita hidup cuma untuk kerja

    kalau aku hidup untuk satu tujuan mas…hehe

    Suka

    Balas
  2. kang ian

    haha yang penting enjoy aja mas..jangan karena dipaksakan..tul gak? apa juga kalau dijalani dengan enak dan tujuan yang jelas…semua itu akan berjalan dengan nornal😀


    Betullll mas Ian

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s