Bukti tipikal Orde Baru di Partai Demokrat


Masih ingat dengan pernyataan menteri penerangan dulu, Bp Harmoko? Beliau sering mengeluarkan pernyataan : “Menurut petunjuk bapak presiden…” yang mengacu pada perkataan Presiden Soeharto. Penokohan Presiden Soeharto begitu besar, bahkan setiap kata-katanya layaknya sabda yang harus dituruti semua pihak.

Baru saja hal saya melihat sedikit kemiripan dengan Kongres Partai Demokrat yang menyatakan hal berikut :

“Pemenang dinyatakan dipilih secara aklamasi apabila perolehan suara hasil voting menunjukkan 50 persen plus satu. Bila tidak ada kandidat yang memenuhi perolehan minimal 50 persen maka dilanjutkan dengan putaran kedua yang diikuti dengan kandidat dengan perolehan suara tertinggi,” jelas Mangindaan di lokasi kongres, Hotel Mason Pine, Bandung, Jawa Barat, Minggu (23/5/2010).

Menurut Mangindaan, apabila hasil voting terhadap dua kandidat tertinggi itu menunjukkan hasil yang sama, maka dilakukan pemilihan ulang. Selanjutnya, jika hasilnya masih sama, maka ketua umum terpilih ditentukan oleh Ketua Dewan Pembina yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Apakah mekanisme di partai lain sama seperti itu? Bisa saja, penokohan Megawati yang begitu besar juga bisa melahirkan keputusan berbau orba seperti di atas.Tipikal orde baru yang saya sebutkan adalah begitu kultusnya dewan pembina mengatur segala sesuatu kebijakan Ketua Dewan Pembina akan menjadi sosok yang terus menerus dimintai pendapat atau “titah” nya. Semua anggota berlindung dibalik istilah “pendapat dewan pembina” atau “petunjuk bapak SBY”. Jika demikian, mana mungkin partai bisa kritis? Kritis terhadap sejumlah Komisaris, Direktur Utama, Presiden Direktur sejumlah perusahaan atau perbankan yang masih merupakan “ipar”, “kroni”, “saudara” atau “antek” dari lingkaran pemerintah?

Tipe Golkar orde baru semakin terlihat oleh hal-hal berikut :

  • Menancapkan “kuku-kuku” pada semua Partai Politik, atau mayoritas partai politik. Semisal di Golkar (baca tulisan berikut) belum lagi loyalis-loyalis SBY di beberapa partai lain.
  • Praktik pecah belah Partai Politik yang akan mengancam (baca tulisan berikut).
  • Melakukan kebijakan populis menjelang Pemilu.
  • Terdikte dengan bangsa asing?

Hal ini bukan berarti menunjukkan kemunduran bangsa Indonesia, karena jangan-jangan hal ini adalah mental yang sudah mengakar pada akhlak setiap penguasa. Hal ini “hanya” berarti darah pahlawan reformasi ter sia-sia kan, terlebih ketika para tokoh muda reformasi seperti Budiman Sujatmiko, Andi Arief, Pius Lustrilanang, Rama, dll sudah makin merapat ke kekuasaan dan berada di tengah-tengah sistem yang rusak.

Akhirnya, semoga ada partai lain yang lebih “masuk akal” dalam melakukan praktek politik, “masuk akal” dalam arti benar-benar memiliki platform kerakyatan dan tidak menghamburkan uang untuk iklan politik dan baliho, atau menyewa rubah EO Politik. Masih ada partai seperti itu? Semoga masih ada!!!

Iklan

8 thoughts on “Bukti tipikal Orde Baru di Partai Demokrat

  1. Delia

    Rata2 emang seperti itu..
    ada orang yang dijadikan acuan.. 🙂

    kalo ngomong politik lia suka bingung sendiri 🙂
    Maaf mas baru mampir

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s