Tua itu pasti, Dewasa itu pilihan!!!


Sehari-hari di sekitar saya sering menemukan orang yang dikategorikan lebih “senior”, dalam artian orang yang secara usia berada di atas saya (lebih tua). Saya belajar “senioritas” yang mereka miliki tidak selalu berarti kedewasaan, banyak di antaranya justru bersikap lebih kekanak-kanakan dari usia yang disandang. Sebenarnya apa sih pengertian kedewasaan? Dari sisi hukum di Negara Indonesia dikatakan sebagai berikut (kutipan dari blog) :

batas usia dewasa di mata masyarakat berbeda dengan batas usia dewasa di mata hukum. Menurut Undang Perkawinan No. 1/1974 dan KUHPerdata, seseorang dianggap dewasa  jika sudah berusia 21 tahun atau sudah (pernah) menikah. Bertahun2 batas usia dewasa tersebut di ikuti oleh seluruh ahli hukum di Indonesia. Sehingga, jika ada tanah& bangunan yang terdaftar atas nama seorang anak yang belum berusia 21 tahun, maka untuk melakukan tindakan penjualan atas tanah dan bangunan tersebut dibutuhkan izin/penetapan dari Pengadilan negeri setempat. Demikian pula untuk melakukan tindakan pendirian suatu PT/CV/FIRMA/YAYASAN, jika salah seorang pendirinya adalah seseorang yang belum berusia 21th, harus diwakili oleh salah satu orang tuanya.
Namun, sejak tanggal 6 Oktober 2004 dengan diundangkannya UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, terdapat pergeseran dalam menentukan usia dewasa. Dalam pasal 39 ayat 1 disebutkan bahwa:
” Penghadap harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Paling sedikit berusia 18 (delapan belas) tahun atau telah menikah; dan
b. Cakap melakukan perbuatan hukum”

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sejak diterbitkannya UU no. 30/2004 tersebut, maka setiap orang yang sudah berusia 18th atau sudah menikahdianggap sudah dewasa, dan berhak untuk bertindak selaku subjek hukum.

Dengan batasan usia / atau  sudah menikah maka seseorang telah dewasa secara hukum.Kedewasaan ini sepertinya dimaksudkan untuk urusan hukum perdata. Usia dan kondisi penikahan dianggap seseorang telah memiliki kesanggupan untuk memutuskan suatu hal tan

Tetapi bagaimana dengan mental, kedewasaan, ketenangan dan pola pikir? Saya mendapati keempat hal tadi bukan didapat seiring dengan penambahan usia setiap tahunnya, melainkan melalui pelajaran-pelajaran kehidupan yang setiap orang mau maknai dan mengubah kehidupannya di kemudian hari.

Ambil contoh saja misalkan seseorang yang pernah masuk penjara karena kasus narkotika. Dalam menjalani hukumannya seseorang yang dewasa akan merenung nasib yang menimpa dirinya dan seiring dengan itu muncul penyesalan sehingga ketika keluar dari penjara ia akan menjadi orang yang baru dan tidak akan mengulangi kesalahannya. Sedikit berbeda dengan orang yang tidak dewasa, masuknya dia ke dalam penjara akan cenderung dimaknai sebagai kurang hati-hati ketika berurusan dengan narkotika, pada saat ia keluar ia akan tetap berurusan dengan narkotika namun dengan model dan cara berbeda.

Setiap orang punya pelajaran dalam kehidupan, setiap orang mengambil makna pada setiap pelajaran, namun perubahan hidup ketika mengalami pelajaran-pelajaran itu bisa berbeda satu sama lain. Kedewasaan akan juga turut dibentuk melalui perubahan hidup karena pelajaran-pelajaran hidup. Seiring dengan itu kualitas setiap orang akan mulai terdiferensiasi.

Bagaimana dengan seseorang yang tidak mampu mengambil pelajaran-pelajaran kehidupan menjadi perubahan-perubahan hidup yang baik? Kedewasaan yang tidak terasah dengan baik dan tetap berada pada fase-fase kanak-kanak kemungkinan akan banyak kita temukan, bertambahnya usia nya tanpa disertai kedewasaan akan semakin membuat sulit interaksi antar pribadi.

Menghadapi orang yang lebih “senior”, namun terkesan kekanak-kanakan merupakan pengalam tersendiri buat saya. Bukan merasa dewasa, tetapi membuat mereka tetap merasa dihargai dengan kekanak-kanakan mereka yang menonjol bukan hal yang mudah dan memutuskan stabilitas emosi yang baik, hal dimana saya sering gagal.

Gimana pengalaman teman-teman menghadapi senior yang childish?

Iklan

7 thoughts on “Tua itu pasti, Dewasa itu pilihan!!!

  1. Asop

    Hehe, senior yang kekanak-kanakan itu biasanya ga mau ngaku kalah. 😆
    Saya lupa gimana ceritanya, tapi saya pernah mengalami hal ini dulu waktu awal kuliah. :mrgreen:

    Suka

    Balas
  2. ian abuhanzhalah

    kalo ada senior yang childish..saya mah jadi kesannya g menemukan wibawa lagi disana..payah deh karena senioritas itu bukan dinilai dari segi usia saja ^^
    nice posting mas.. 🙂

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s