Meniru Etnis Tionghoa di Lingkungan kerja


—Judul artikel ini tidak mengarah kepada isu SARA  —

Siapa tidak kenal Susi Susanti dan Alan Budikusuma? Siapa yang meragukan nasionalisme Kwik Kian Gie saat berbicara mengenai perekonomian Indonesia? Adalagi kisah juara dunia tinju bernama Chris John. Mereka adalah keturunan etnis Tionghoa yang memiliki rasa nasionalisme yang kadarnya tidak diragukan lagi. Dalam kapasitasnya masing-masing mereka adalah salah satu putra dan putri Indonesia terbaik.

Di sisi lain bagi anda para pekerja atau karyawan di perusahaan-perusahaan swasta, coba lihat atasan anda (level Manajer, Direktur dan Komisaris), maka kita juga akan menemukan beberapa lagi etnis Tionghoa yang bahkan jumlahnya lebih dominan. Kemudian ada lagi cerita salah satu rekan saya dari etnis Tionghoa di kuliah yang lulus kuliah langsung mencari nafkah dengan berwiraswasta sembari meneruskan usaha yang ditinggalkan mendiang ayahnya.

Lalu ada apa dengan itu semua?

Sederhana saja, saya ingin mengajak melihat beberapa kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh rekan-rekan dari Etnis Tionghoa. Semenjak SD-SMP-SMA-Kuliah-Kerja saya termasuk beberapa kali memiliki kesempatan untuk melihat kehidupan beberapa teman etnis Tionghoa, dan dari semua itu satu kata saja yang bisa mewakili beberapa teman saya tersebut yaitu : HEMAT!!!!

Konteks hemat yang diterapkan oleh teman-teman saya tadi tidak berarti pelit, namun saya melihat mereka begitu cermat dalam penggunaan uang dibandingkan dengan saya. Ketika ada pilihan konsumsi yang dihadapkan pada saya dan pilihan itu bukan merupakan prioritas maka terkadang saya memilih mengambil pilihan konsumsi yang itu berarti menuruti keinginan atau nafsu, hal ini berbeda dengan beberapa rekan dari etnis Tionghoa yang saya kenal. Mereka begitu berhati-hati dalam melakukan keputusan untuk melakukan konsumsi.

Selain hemat, saya juga melihat daya tahan mereka dalam bekerja cukup tinggi. Dari sisi intelektual mungkin saya tidak pernah merasa kalah, namun dari sisi ketahanan bekerja maka menurut saya etnis Tionghoa memiliki kelebihan-kelebihan. Tahan berada di kantor untuk berpikir tentang pekerjaan atau proyek yang sedang mereka hadapi, selalu berpikir untuk kemajuan perusahaan bahkan dalam kondisi berada di tengah-tengah keluarga terkadang urusan pekerjaan lah yang mereka pikirkan.

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China

Istilah terkenal ini (dengan mengesampingkan sedikit kesahihan atau perdebatan dari sisi agama) nampaknya benar adanya. Melihat kemampuan etnis Tionghoa dalam bekerja, maka saya menyadari apa arti dari istilah di atas. Silahkan menyimak metode Prof Johanes Surya yang saya kutipkan berikut :

Mestakung = seMESTA menduKUNG merupakan hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok  berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu disekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis.

(Lihat artikel kondisi kritis awal mestakung-Pdf)

Ada 3 hukum Mestakung yaitu:

1.     Dalam setiap kondisi KRItis ada jalan keluar

2.     Ketika seorang meLANGkah, ia akan melihat jalan keluar

3.     Ketika seorang teKUN melangkah, ia akan mengalami mestakung

Ketiga hukum ini saya singkat dengan KRILANGKUN (KRItis, LANGkah, teKUN).

Lihat artikel Krilangkun.

Apapun kondis kritis yang Anda ciptakan, percayalah Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan mestakung untuk membantu Anda keluar dari kondisi kritis itu. Anda akan keluar sebagai pemenang.

Kutipan tersebut menggambarkan karakter kerja pengusaha dari Etnis Tionghoa. Mereka suka sekali menetapkan target-target yang luar biasa tinggi dan nyaris mustahil untuk menciptakan kondisi KRItis. Dalam mencapai target itu mereka tidak pernah mengeluh atau bahkan mundur di tengah jalan, mereka tetap meLANGkah dengan teKUN (KRI-LANG-KUN) sehingga dengan ketiga hal tersebut akan tercipta MESTAKUNG atau semesta mendukung, yang berarti sistem dengan sedemikian rupa akan bergerak menuju target-target awal yang seolah mustahil dikerjakan.

Beberapa perbedaan nyata jelas ada pada karakter kerja kita dengan rekan-rekan dari Etnis Tionghoa. Menilik hal itu nampaknya baik bagi kita (atau bangsa pribumi) untuk menciptakan gaya dan karakter kerja tersendiri untuk meraih kesuksesan-kesuksesan seperti yang dimiliki bangsa Tionghoa. Gaya dan karakter itu terlahir dari kelebihan-kelebihan kita sendiri dan tidak harus melulu sama dengan etnis Tionghoa.

Tulisan lain Romailprincipe mengenai pekerjaan

9 thoughts on “Meniru Etnis Tionghoa di Lingkungan kerja

  1. romailprincipe Penulis Tulisan

    Asepsaiba : iya mas, harus punya rasa tidak mau kalah juga (yang positif)
    Eko Deto : Atau dibuat simpel? Coba dilakukan dari hal-hal kecil, tetapi memang butuh kemauan keras, atau disiplin
    Asop : Etos kerja dan passion meraih kesuksesan

    Suka

    Balas
  2. Rigorista

    If:

    A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

    Is represented as:

    1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.

    Then:

    H-A-R-D-W-O- R- K is equal to 8+1+18+4+23 + 15+18+11 = 98%

    And:

    K-N-O-W-L-E- D-G-E is equal to 11+14+15+23+ 12+5+4+7+ 5 = 96%

    But:

    A-T-T-I-T-U- D-E is equal to 1+20+20+9+20+ 21+4+5 = 100%

    THEN, look how far the love of God will take you:

    L-O-V-E- O-F-G-O-D is equal to 12+15+22+5+15+ 6+7+15+4 = 101%

    Therefore, one can conclude with mathematical certainty that:

    While Hard Work and Knowledge will get you close, and Attitude
    will get you there, It’s the Love of God that will put you over
    the top!

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s