Memimpikan Indonesia : “Dimana Rakyat adalah Hal terpenting”


—–[tulisan yang diikutkan dalam lomba blog Shandysime]—-

Indonesia memiliki seluruh syarat untuk menjadi Negara besar. Negara yang sejahtera, Negara yang maju perekonomiannya, Negara yang memimpin bangsa-bangsa lain. Bagi saya dari semua atribut Negara maju, saya hanya memimpikan satu hal sederhana yang juga menjadi cita-cita bangsa Indonesia dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yaitu “Kesejahteraan bagi Rakyat Indonesia”. Suatu cita-cita dimana setiap orang bisa menikmati dan memastikan bahwa di Indonesia dia bisa hidup, bisa berkarya, bisa berkreasi dan membangun karakter pribadi. Dalam kehidupan seperti ini tentunya karakter bangsa akan terbentuk dan menjadi dasar sebuah bangsa yang besar.

Keseharian saya melewati stasiun busway kota dan blok m, tempat dimana profesi pengemis menjadi posisi favorit dan mudah dijumpai. Kasihan rasanya melihat mereka, yang seharusnya ditanggung dalam Pasal 34 UUD 1945, hidup terlantar dan jauh dari kata layak. Di sisi lain, penghasilan sebagai pengemis ternyata lebih menjanjikan sehingga mereka memilih menjalani profesi pengemis tersebut. Selain itu tidak dapat dipungkiri bahwa para pengemis itu kebanyakan adalah sebuah sindikat profesional yang sanggup memberi kehidupan yang lebih baik ketimbang sebuah panti sosial.

Saya bermimpi ada sebuah model lebih mapan dari panti-panti sosial, suatu model dimana  secara signifikan mampu mengarahkan masyarakat berekonomi kurang mampu untuk berkarya di seluruh daerah di Indonesia. Berkarya dan membuat usaha-usaha kecil dalam cluster-cluster yang dikelola oleh pemerintah bersama swasta. Usaha berbasiskan rakyat kecil yang hasilnya berdaya saing tinggi di dalam dan luar negeri. Bidang tekstil, pertanian, pangan, hiasan tradisional, kerajinan tangan sesuai karakteristik potensi daerah masing-masing akan dikembangkan di setiap daerah. Model ini akan dikembangkan oleh orang-orang yang memiliki nasionalisme tinggi, yang bekerja untuk puas pada kemajuan bangsa nya lebih dari sekedar mencari kekayaan pribadi.

Sistem yang dikembangkan seperti ini membawa saya dalam satu mimpi bahwa banyak orang-orang berekspresi dalam suatu karya yang juga mampu mengarahkan kepada aktifitas perekonomian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Profit dari system ini dikembalikan dalam prosentase yang cukup tinggi kepada para pekerja, model ini berbeda dengan perusahaan-perusahaan yang menggaji karyawan seadanya dan terus meningkatkan profitabilitas tahun ke tahun. Pada sistem yang saya impikan tidak seperti itu, keuntungan adalah peningkatan pendapatan karyawan, aset yang seminimal mungkin, sistem desentralisasi dan mengkaryakan banyak sumber daya “tidak terdidik”.

Sesuai mimpi saya “Rakyat yang terpenting”, maka jutaan rakyat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan akan naik pendapatannya, makin banyak anak-anak mereka yang akan bersekolah sampai SMA dan Universitas, peningkatan kualitas generasi merupakan mimpi puluhan tahun sejak dikembangkan model-model baru dari panti sosial. Peningkatan kualitas generasi ini mampu menekan angka korupsi dan kejahatan di Indonesia, generasi-generasi yang tidak mengarah kepada kaum kapitalisme modern, generasi yang lebih suka bercucuran keringat dibanding duduk manis di belakang meja, generasi yang menolak penjualan aset bangsa kepada kaum Neoliberalisme, generasi yang puas dengan kemajuan bangsanya dan terus mengesampingkan kesejahteraan pribadi.

Dan di atas mimpi-mimpi itu, yang paling saya impikan adalah : saya merupakan pemimpin atau minimal adalah bagian dari mimpi itu. Posisi pengambil kebijakan publik seperti Menteri, Gubernur atau bahkan Presiden membuat mimpi-mimpi itu makin sempurna. Bahwa saya akan mengefisienkan semua pengeluaran pemerintah pusat atau daerah yang berbau “kemewahan”. Tidak ada lagi pembelian laptop baru, yang ada adalah pengambilan inventaris laptop lama dari pejabat lama dan dipakai oleh pejabat baru. Tidak ada pembelian mobil, dengan memakai mobil dinas yang lama semua pejabat masih cukup gagah rasanya. Tidak ada lagi tunjangan “tetek bengek”, karena menjadi pejabat publik bukan dalam motif ekonomi maka hidup bersahaja dan secukupnya adalah pilihan satu-satunya.

Meniru pemimpin Negara China, saya akan melakukan konferensi pers besar-besaran untuk menjelaskan kesediaan menjadi penghuni peti mati jika akhirnya ketahuan melakukan korupsi. Semua pengusaha yang biasa bekerjasama usahanya dalam bentuk kolusi dan nepotisme untuk melancarkan usahanya akan saya cari, saya kejar habis-habisan untuk mengejar aset-aset Negara dan menghukum mereka sesuai peraturan undang-undang. Secara pribadi saya tidak akan menempatkan kenalan-kenalan saya sebagai komisaris atau direktur perusahaan-perusahaan besar karena itu akan jadi contoh buruk dan bagi rakyat yang saya pimpin. Saya tidak akan membangun rumah pribadi (apalagi sebuah puri besar sebagai kediaman pribadi), rumah dinas saya juga tidak perlu mewah. Mobil dinas peninggalan pejabat-pejabat lama saja yang akan saya pakai.

Begitulah sedikit dari mimpi-mimpi saya, sebuah mimpi yang bisa dipupuk mulai sekarang. Sebuah mimpi yang bisa diwujudkan mulai sekarang, disirami dan dirawat hari demi hari hingga akhirnya mimpi itu menjadi besar, kuat dan kokoh seperti yang saya impikan.

Salam Romailprincipe

5 thoughts on “Memimpikan Indonesia : “Dimana Rakyat adalah Hal terpenting”

  1. asepsaiba

    Mari bersatupadu wujudkan mimpi2 itu! Hal kecil yang bisa kita lakukan adalah menulis sebuah tulisan yang menginspirasi… Seperti tulisan ini contohnya…

    Sesama Roamnisti harus saling mendukung.. Moga menag ya kontesnya… (saya juga ikutan.. hehe…)

    Suka

    Balas
  2. asepsaiba

    Mari bersatupadu wujudkan mimpi2 itu! Hal kecil yang bisa kita lakukan adalah menulis sebuah tulisan yang menginspirasi… Seperti tulisan ini contohnya…

    Sesama Romanisti harus saling mendukung.. Moga menag ya kontesnya… (saya juga ikutan.. hehe…)

    Suka

    Balas
  3. om_rame

    keberhasiLan dari demokrasi adaLah keberhasiLan untuk mensejahterakan rakyat. sebagian rakyat memang sudah kesejahteraan seutuhnya, tetapi itu hanya pd rakyat2 tertentu yg masih pd garis nepotisnya. sedangkan rakyat yg Lain hanya mendapatkan kesejahteraan berupa kewajiban untuk “membayar pajak” yg pd akhirnya disaLahgunakan oLeh oknum2 tertentu, mendengar “janji poLitik”, dan “mengeLus dada” masing2.

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s