Sumber stress kerja yang tersembunyi?


Stress, siapapun pernah menghadapinya dan beberapa punya cara sendiri-sendiri untuk mengatasi dan menyiasati stress. Dalam lingkup pekerjaan, stress merupakan hal yang lumrah dan bagi orang dengan manajemen stress yang baik merupakan orang-orang yang produktif (belum tentu sukses). Pendapat Stephen Convey mengenai stress cukup unik, dan banyak dikutip menjadi tulisan di blog berikut. Sebenarnya saat-saat ini saya sedang berada di tengah-tengah stress, jadi cukup sah kalau mencoba mendokumentasikan di dunia maya seperti blog ini 🙂

Sumber stress. Yang saya ketahui mengenai stress di beberapa teman dan lingkungan serta cerita dari teman-teman mailing list, stress tidak selalu melulu dikarenakan pekerjaan yang luar biasa berat dan tak terselesaikan, stress tidak melulu berisikan setumpuk pekerjaan sulit, stress tidak selali berupa bentakan atau tekanan dan teguran dari bos….Banyak pendapat teman-teman mengenai stress, namun saya menemui satu hal unik mengenai penyebab stress adalah ketidakseimbangan kapasitas bawahan dengan atasan, dalam hal ini nalar, intelektual, IQ,  SQ dari bawahan lebih dari atasan.

Hmm, tentunya pertanyaannya, kenapa jadi bawahan jika dari beberapa sisi justru unggul dari atasan? simpel saja, hal ini dikarenakan masa kerja dan pengalaman. Saya melihat bahwa keunggulan intelektual bawahan dari atasannya akan menyebabkan ruang ‘sempit’ dalam pekerjaan si bawahan, atasan dengan ‘kacamata kuda’ akan sulit menyeimbangkan diri dengan bawahan. Kecenderungan stress karena hal ini mampu menjelaskan kenapa banyak orang-orang muda tidak tahan dan cepat mencari pekerjaan lain atau ngetrend disebut turnover. Bukan karena ketidakmampuan bawahan mengerjakan tugas, tetapi karena ketidakmampuan atasan memanage sumber daya yang ‘jauh’ lebih besar dari dirinya.

Contoh cerita,

Seorang atasan memberi tugas atau project dengan arahan dan kata-kata tidak jelas (karena kebiasaan yang didapat dari atasan sebelumnya, budaya perusahaan atau karena sumber daya atasan memang rendah), tugas ini diselesaikan dengan waktu cepat, tentunya dalam bentuk draft dan menunggu approve dari atasan. Sebelum tugas pertama diapprove, si atasan memberi lagi tugas 2, 3, 4, dst. Bawahan, meskipun heran (karena status tugas 1 belum jelas) , namun melalap semua tugas 2, 3 dan 4 itu dengan semaksmal mungkin (ingat, bahwa arahan atasan tidak dilakukan dengan jelas seperti tugas atau project yang pertama)…Tugas 2, 3 dan 4 dikerjakan dalam waktu cepat dan tanpa diduga sudah ada 4 tugas berada dalam status ‘menunggu; dari atasan. Tugas 1, 2, 3 dan 4 akhirnya berlarut-larut tanpa approve dan terus menerus bawahan mengerjakan rutinitas harian, hingga suatu saat tugas 1, 2, 3 dan 4 sudah waktunya diekspose ke departemen lain. Atasan melihat draft tugas 1, 2, 3 dan 4 si bawahan dan mendapati beberapa hal di luar standard perusahaan (yang tidak dia komunikasikan sebelumnya, atau karena standardnya berbeda dengan bawahan). Atasan memanggil bawahan dan menyuruh untuk merevisi tugas 1, 2, 3 dan 4 secepatnya karena urgensi untuk menjadi bahan meeting. Hmmm, merevisi tugas 1, 2, 3 dan 4 dalam waktu singkat dan itu sebenarnya sudah bisa sempurna jika saja arahan atasan ataupun draft tugas dikoreksi lebih cepat. Hal ini terjadi berulang-ulang, sehingga si bawahan memikul ‘beban-beban’ yang bukan merupakan pekerjaan, tetapi lebih kepada ‘sampah’ karena atasan (‘sampah’ bisa bermacam-macam kelakuan yang muncul karena kapasitas atasan yang ‘payah’). Beban bawahan ini, karena kapasitas bawahan yang besar, dapat ditahan dan terus dipikul oleh si bawahan sehari-hari. Akibatnya? hmmm, tentu saja hanya 2 kemungkinan tidak produktif atau keluar dari perusahaan saat ini.

Apakah anda stress karena gaji kecil? Pekerjaan terlalu susah? Godaan besar? Tulisan pada link ini adalah cerita sederhana dan menjadi ujung cerita mengapa bos yang buruk menjadi penyebab perputaran karyawan yang tinggi. saya coba kutipkan tulisannya :

Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus – dalam bentuk gaji yang lebih besar, Fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya. Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.

Sebenarnya ada baiknya melihat hal ini bukan dari sisi kekurangan atasan, siapapun bisa memiliki kekurangan, tetapi lebih kepada dipakai kepada diri sendiri. Mengenali anak buah (jika ada) dan mengetahui bahwa ruang gerak yang diberikan padanya tidak terlalu sempit dan ritme kerjanya seimbang dengan kita. Tentunya ritme kerja dari bawahan tidak boleh malah menyebabkan atasan stress, dalam kondisi seimbang maka stress yang tercipta justru berada dalam titik produktif, semisal : memberi deadline pada tugas, ketika tugas selesai dan dikumpulkan di meja, maka atasan juga menjanjikan kapan revisi akan diserahkan kembali, sehingga status tugas jelas dan bawahan bisa mencurahkan kapasitas pada pekerjaan lain. Atau berikut beberapa kemungkinan (kutipan dari lelucon di http://susnet.se/homHum3.html)

Office arithmetic

Smart boss + smart employee = profit
Smart boss + dumb employee = production
Dumb boss + smart employee = promotion
Dumb boss + dumb employee = overtime

Beberapa tips yang saya kembangkan untuk mencoba keluar dari stress

Saat ini stress malah dinikmati saja sebagai pemicu produktivitas, manajer atau atasan yang membuat stress bisa dikelola dengan cara menikmati waktu-waktu di kantor. Beberapa hal praktis yang saya coba kembangkan adalah : sedikit bersantai, tidur sebentar ketika jam istirahat, browsing mencari bahan untuk bekerja, online melihat email dan blog (yang ini gak boleh kelamaan di kantor 🙂 ), membaca buku manual tentang pekerjaan yang tidak dikuasai atau mereview sendiri beberapa pekerjaan yang lewat.

Mungkin ada lagi beberapa hal yang juga ingin saya kembangkan dan dijadikan kebiasaan : Memberi semangat jika ada teman-teman yang stress, bahkan mengerjakan sendiri pekerjaan yang seharusnya dilakukan rekan lain (yang tidak dilakukan rekan tsb dengan berjuta alasan) dengan ikhlas (hitung-hitung malah tambah pintar), merencanakan usaha kecil. Pada bagian-bagian ini saya sering gagal (penyebab stress yang baru???). Hmmm, semoga dengan menuliskan ini, ke depannya saya dapat mengelola stress dengan baik… 🙂

Tulisan lain Romailprincipe mengenai pekerjaan

Iklan

12 thoughts on “Sumber stress kerja yang tersembunyi?

  1. sewa mobil

    melihat suasana alam yang alami akan menghilangkan stress kalau di dalam kerja saat jam istirahat luangkan di taman yang hijau sambil menghirup udara segar yang penuh pepohonan rindang.

    Suka

    Balas
  2. Gde Semadi Putra

    hahaha saya suka sekali dengan konsep
    smart boss + smart employee… haha
    tapi kalo pegawai kepinteran tar dia bisa buat usaha sendiri..
    hahaha

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s