Inilah kasus pelanggaran Antibullying SMU Negeri Jakarta -2nd-


Dalam posting saya tahun 2009 tentang Antibullying saya mengupas tentang kasus penganiayaan di sebuah SMU Negeri Jakarta. Kasus tersebut baru-baru ini terekspose lagi, terjadi di salah satu sekolah yang masih berdekatan dengan posting terdahulu. SMU Negeri 70 yang terletak di kawasan Bulungan Jakarta kali ini menjadi tempat kejadian perkara. Berikut kutipan dari detik.com :

Hanya gara-gara tidak memakai singlet (kaos dalam), siswi kelas 1 SMA 70 Bulungan, Novia Yuma Shanti (Vhia) diintimidasi oleh 3 seniornya yang duduk di bangku kelas 3 SMA. Bahkan, Vhia sempat mendapat kekerasan dari seniornya itu.

“Eh, kenapa kamu nggak pake singlet? Bra kamu kelihatan tuh,” kata Vhia menirukan Euodia.

Vhia kemudian mencoba menjelaskan alasannya kenapa tidak memakai singlet ke seniornya. “Aku nggak pakai singlet karena masih basah, baru dicuci. Dan Bra aku pun warnanya tidak mencolok,” katanya.

Aturan memakai singlet sendiri, kata Vhia, tidak dikeluarkan oleh pihak sekolah. Aturan itu ditetapkan oleh senior saat juniornya menjalani Masa Orientasi Sekolah (MOS) hingga berlanjut ke kelas dua. Semasa MOS, para senior SMA 70 memang menerapkan aturan bagi junior-juniornya. Diantaranya rambut tidak boleh di gerai, baju dan rok harus longgar, tas harus ransel dan sepatu harus berjenis kets.

“Pokoknya kita-kita yang masih kelas 1 terlihat jelek-jeleklah,” imbuhnya.

Ada apa sih dengan pakaian dalam? Atau dalam postingan saya sebelumnya, Seberapa urgent sih zona teritorial antara kelas 1, kelas 2 dan kelas 3?  Ada apa dengan murid kelas 1 SMU, mengapa seolah-olah mereka dikebiri hak-hak nya? tidak boleh ini, tidak boleh itu, macam-maca larangan dikeluarkan senior di sekolah. Di SMUN negeri 82 sendiri, tempat saya sempat singgah di satu dekade lalu, saya mencermati itu adalah masalah tradisi dan turun menurun. Bukan melulu masalah aroganisme dari senior, tetapi pengawasan dari alumni pun terkadang membuat para siswa terkadang merasa kurang nyaman dalam bersosialisasi dengan bebas.

Kasus bullying ini terkadang dipicu oleh ketidaksukaan, atau kalau bisa diperdalam ketidaksukaan itu didasari kepada iri hati kepada anak-anak kelas 1. Istilah “digencet” populer dan menjadi “momok” menakutkan. Luka fisik bahkan terkadang luka mental kadang menjadi suatu dampak yang ditimbulkan oleh tradisi “gencet-menggencet” ini. Tradisi ini begitu sulit dihilangkan, begitu sulit dikikis.

Untuk menuju ke arah penghilangan tradisi ini, perlu adanya satu “preman” atau lebih pantas disebut kepala angkatan yang visoner dan sepakat untuk tidak meneruskan tradisi itu. Tidak sampai di situ, kepala angkatan ini harus solid menurunkan semangatnya kepada rekan-rekan dan adik-adik angkatannya. Kepala angkatan ini semacam menjadi pejuang Kemerdekaan bagi hak-hak siswa kelas 1 yang selama ini banyak dikebiri. Kepala angkatan semacam ini sulit didapatkan, karena kebanyakan kepala angkatan adalah “jagoan” atau “preman” yang memang merasa sangat ingin dihargai dan dihormati, meski tidak melulu main fisik tetapi kepala angkatan biasanya tidak memiliki visi ke arah sana.

Sekolah bisa membantu untuk menelurkan pemimpin-pemimpin di tiap-tiap angkatan yang memiliki semangat seperti ini. Menjelang masuknya siswa baru atau bisa jadi di akhir tahun pelajaran, sekolah bisa mengadakan seminar-seminar, talkshow dan pelatihan-pelatihan atau pembentukan kelompok-kelompok pengawasan yang langsung dipimpin oleh beberapa guru pembina untuk melahirkan generasi freedom, generasi yang tidak lagi meneruskan tradisi bullying, generasi yang tidak suka kekerasan, generasi yang senang melihat adanya kebebasan tumbuh di adik-adik angkatan mereka.

Akankah ada generasi kemerdekaan seperti itu di sekolah-sekolah yang tradisi bullying nya kental?

[Updated] Kasus Bullying Juga Menimpa Okke Siswa SMA 46 Jakarta

Jakarta – Penganiayaan atas dasar senioritas ternyata cukup banyak terjadi di SMA di Jakarta. Setelah kasus di SMA 70, kini muncul kasus yang sama di SMA 46 Jakarta.
Okke Budiman, siswa kelas 1 SMA 46 mengaku dianiaya oleh seniornya siswa kelas 3. Kejadiannya berawal saat pelaku berinisial B sering meminjam motor Okke. B disebut-sebut pentolan siswa kelas 3 di SMA 46.
Menurut Ayah Okke, Ceppy Budiman, B sering meminjam motor anaknya dengan memaksa dan perlakuan kasar.
“Seperti mengembalikannya tengah malam dan mengembalikannya dengan sangat tidak sopan dan tidak berterimakasih seperti menendang motor dan meludahinya,” ujar Ceppy melalui surat elektronik yang diterima detikcom, Sabtu (3/4/2010).
Kejadiannya berawal pada 17 Februari lalu. Saat itu, kata Ceppy, anaknya langsung pulang tanpa izin B saat bubaran sekolah. Namun, niat itu malah berbuah naas.
“Dia dipaksa dipanggil dengan ancaman akan dihabisi besok hari apabila dia tidak menggubris panggilannya. Dengan dikelilingi senior-seniornya yang lain, anak saya mengalami beberapa pemukulan dengan helm dan tangan kosong, tendangan di punggung, dan 5 sundutan rokok di lengan kanannya,” papar Ceppy.
Ceppy mengaku, anaknya langsung kabur menuju kantornya dalam keadaan kesakitan. Okkie malah sempat trauma beberapa hari.
“Sore itu jam 03.00 WIB langsung bersama anak saya pergi ke sekolah SMA 46 di Jl Fatmawati untuk melapor kejadian ini kepada guru-guru dan kepala sekolah, saat itu mereka berjanji untuk menyelesaikan masalah ini seadil adilnya,” jelasnya.
Tak puas, Ceppy juga melaporkan B ke Polres Jakarta Selatan. Ceppy resmi melaporkan B melalui Laporan Polisi no 268/K/II/2010/Res.Jaksel tanggal 17 Februari dengan tuduhan penganiayaan berat. Namun, Ceppy belum mengetahui bagaimana perkembangan kasus anaknya hingga sekarang.
“Setahu saya kepala sekolah dan guru-guru sudah di BAP,” terang pria yang bekerja sebagai advertising ini.
Akibat penganiayaan tersebut, lanjut Ceppy, anaknya mengalami trauma cukup dalam. Akhirnya, ia berinisiatif untuk mengeluarkan Okkie dari SMA 46.
“Saya tidak banyak menuntut, sudahlah saya keluarkan anak saya. Sekarang dia Home Schooling saja,” tandasnya.
(ape/ape)

Nah, itu maksud saya. Orang seperti B di SMUN 46 ini yang hendaknya memiliki semangat kebebasan dan kemerdekaan bagi setiap orang. Sayangnya “B” yang diberitakan malahan melakukan Bullying menurut detik. Sekolah butuh partner seperti “B” untuk menghapus bullying, pendekatan persuasif serta menyelipkan ajaran-ajaran antibullying di tengah-tengah jam sekolah ataupun sekaligus menyelenggarakan seminar, talkshow atau training antibullying adalah beberapa hal yang bisa dilakukan sekolah.


11 thoughts on “Inilah kasus pelanggaran Antibullying SMU Negeri Jakarta -2nd-

  1. mikha_v

    Aneh sekali ya. Sekolah itu kan tujuannya untuk belajar. Sudah capek capek bayar SPP untuk sekolah, kok malah dapat kekerasan fisik & mental 😆

    Indonesia….oh Indonesia….

    Saya 100% bangga akan Indonesia, tapi saya tidak bangga atas karakter sebagian besar manusia indonesia!

    Suka

    Balas
  2. Eko Deto

    seingat saya, waktu masih sma dulu nggak ada yang kaya gitu. habis masa orientasi yang dilaksanakan pengurus OSIS, ya sudah. nggak ada batasan antara kelas 1, 2 atau 3. kalau perkelahian antar murid sih memang kadang terjadi.

    Suka

    Balas
  3. harian aprillins

    Sekolah butuh partner seperti “B” untuk menghapus bullying, pendekatan persuasif serta menyelipkan ajaran-ajaran antibullying di tengah-tengah jam sekolah ataupun sekaligus menyelenggarakan seminar, talkshow atau training antibullying adalah beberapa hal yang bisa dilakukan sekolah <– jadi maksudnya mengangkat preman untuk mengamankan yah? heheheh kalau ga salah ini taktik perang cina deh.. hehehehe 😎

    kalau bullying ga keterlaluan ya biasalah anak SMU tapi kalo udah sampe sundut.. sajam.. bunuh2an.. dan yang mengerikan lain itu.. ya ga wajar lagi namanya………

    gitu .. menurut saya.. ehehe 😎

    Suka

    Balas
  4. kikakirana

    weh,,, itu otak orang”nya sudah gag waras…
    sekolahan tempat belajar udah lebih maju dari preman” terminal murid”nya.
    lha itu guru”nya kemana semua…
    doch doch…makin aneh” aja ini dunia…
    huh

    HIDUP!!!

    Suka

    Balas
  5. indonesian anti bullying

    Bullying itu dapat merusak potensi tunas-tunas bangsa. Lembaga pendidikan
    yang memiliki otonomi seharusnya membuat anti bullying plan. Jangan sampai
    kalau terjadi kasus bullying disekolahnya malah diselesaikan lewat mediasi ke DPRD seperti terjadi di Bandung beberapa waktu lalu.

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s