Sifat khas kita “lempar bola”


Mungkin judul di atas lebih tepat jika kata “kita” diganti “saya”, hehe….

Membaca artikel di vivanews.com menjadi terpikir beberapa sifat dan karakter orang, khususnya di tempat kerja (kantor). Contohnya saya sendiri saja (curcol..) jika ada beberapa tugas atau pekerjaan yang diserahkan atasan kepada saya, kecenderungan pertama kali yang terlintas adalah “Sebenarnya ini tanggung jawab siapa?” kemudian baru “Kepada siapa ya saya limpahkan tugas ini?” baru terakhir “Bagaimana saya mengerjakan ini sebaik mungkin!”. Wow…betapa urutan pola pikir itu membuat suatu pekerjaan menjadi sedikit lebih nampak sulit 🙂

“Lempar bola” atau cari aman dari satu situasi yang menekan dengan mengumpankan orang lain memang sangat tipis perbedaannya dengan mendelegasikan tugas atau dengan memberi on the job training kepada yunior. “Lempar bola” seringkali merupakan satu sikap yang didasari kepada perasaan malas mengerjakan dan merasa kedudukan atau jabatan terlalu tinggi untuk mengerjakan sesuatu. Dalam kasus Lempar Bola Presiden ke DPR lebih diarahkan kepada proses pencitraan dan pengambilan kebijakan publik untuk “kepentingan orang banyak” (melihat lempar bola dari sudut pandang positif) atau lebih kepada usaha untuk membuat keputusan sulit dan penuh resiko diambil oleh pihak lain (melihat lempar bola dari sudut pandang negatif).

Yang jelas dan pasti, kebiasaan lempar bola adalah suatu kebiasaan jelek. Kebiasaan ini bisa membuat kemampuan dan intelektual menurun, dalam kadar tinggi maka kebiasaan ini bisa memberi cap buruk dari atasan kepada saya. Kemauan dan keinginan saya memang mengambil dan mengerjakan semua pekerjaan (hehe…), tetapi kadang perasaan keterbatasan otak, waktu dan kemampuan membuat saya mulai berhitung dan tak jarang sifat “lempar bola” akhirnya muncul.

Jadi sekarang dalam mengelola banyak hal maka sifat lempar bola harus dijauhkan. Pikiran yang pertama kali muncul adalah “Bagaimana saya menyelesaikan ini?”, bukan “Siapa yang bisa saya limpahi hal ini?”. Jika pada proses penyelesaiannya terkadang membutuhkan pendelegasian maka memastikan pihak yang didelegasikan mengerjakan dengan supervisi tepat, jelas dan terukur sehingga pihak yang didelegasikan tidak merasa mendapat “bola panas” dari saya. Bahasa nya sudah semakin rumit dan tidak praktis nich…

Percaya deh, di banyak tempat si “pelempar bola” ini memang benar-benar ada, rajin “melempar” dan kalaupun “menangkap bola” maka mata nya akan mencari-cari kemana akan “melempar bola” ini selanjutnya. Dalam bagian ini bukankah “menangkap bola” demi terselesaikan suatu tugas dan tanggung jawab lebih baik? Berpikiran ke arah solusi dan menyelesaikan masalah lebih baik daripada mencari-cari kambing hitam? Mudah dibicarakan, sulit dilakukan. Selamat mencoba untuk para “pelempar bola” 🙂

Tulisan lain Romailprincipe mengenai pekerjaan

Iklan

6 thoughts on “Sifat khas kita “lempar bola”

  1. Anak Adam

    Seharusnya seseorang jika ingin memberikan bola kepada temannya, lihat dulu posisinya. walau pun temannya itu bisa dipercaya karena ke ahliannya dalam memainkan bola, tapi jika saat itu dia sedang mendapat gangguan dan berada dalam posisi yang tidak siap untuk menerima bola, sebaiknya cari teman lain yang saat itu sudah siap. Itu pun bila dia pemain yang dipercaya dapat memainkannya. Dan jangan memberikan bolanya kepada orang yang tidak ahli dalam memainkannya?.

    Sebaiknya dia bersabar sampai teman yang dia percayai itu, sudah dalam kondisi siap.

    Suka

    Balas
  2. mikha_v

    [maaf out of topic] 😛

    Itu perbedaan guru VS Politikus

    1. Guru: Boleh salah, tapi tak boleh berbohong
    Kalo guru berbohong, jelas kredibilitasnya langsung jatuh. Tidak ada lagi murid yang mau percaya.

    2. Politikus: Tidak boleh salah, tapi boleh berbohong.
    Lihat saja politikus-politikus yang pernah melakukan kesalahan. Pasti mereka langsung jatuh banget pamornya pada masyarakat. Oleh karena itu mereka perlu melakukan segala cara, terutama “berbohong”, untuk menutupi kesalahannya,

    Cara lain yang dipakai adalah “lempar bola” ini. Itu sebabnya lempar bola, berbohong, dan sejenisnya, sudah menjadi ‘permainan’ dalam dunia politik, ekonomi, dan kerja.

    Suka

    Balas
  3. aldy

    ambil sisi positipnya saja, jauhkan sisi negatipnya.
    Dalam pengertian ini lempar bola yang sebenarnya loh, ibarat Fransesco Totti mengoper bola.

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s