Kontradiksi BLT 2009 dan BLT 2010


Akhir-akhir ini sering terpikir inkonsistensi pemerintah ketika memikirkan Kampanye Pemilu 2009 yang beberapa kali mengedepankan BLT (Bantuan Langsung Tunai) sebagai isu meraih dukungan dibandingkan dengan rencana penarikan BLT pada tahun 2010 ini. Ada apa? Apakah terlalu membebani APBN? Atau akan keluar statemen “akan dialokasikan ke program lain yang langsung menyentuh rakyat” semisal : SEMBAKO MURAH, OPERASI PASAR?

Alasan lama seperti BLT tidak mendidik, kurang menyentuh, banyak penyelewengan, dan lain sebagainya mungkin bisa jadi alasan penarikan BLT. Tetapi mengapa dahulu dijadikan tema kampanye? Apa tidak sadar ini bisa jadi salah satu kebijakan yang menunjukkan pemrintah tidak/kurang konsisten terhadap program-program untuk rakyat?

Mengingat salah satu tulisan saya menjelang Pemilu 2009, sedikit mengutip statemen beberapa tokoh dari Partai Demokrat. Kira-kira begini kutipannya :

“Saya senang PDIP saat ini membantu pemerintah dalam mengawasi BLT dan menyadari BLUNDER yang diperbuat…”

“Salah sendiri kenapa ketika berkuasa ibu Mega TIDAK PERNAH membuat program pro rakyat…”

“Pernyataan Ibu Mega MENGHINA rakyat miskin, karena Ibu Mega tidak pernah miskin dan tidak tahu 200.000 itu sangat berharga…”

Dan berikut beberapa kutipan statement Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum PDIP sekaligus Capres dari PDIP dan Mantan Presiden Republik Indonesia)

“Betapa rakyat mengantri BLT harus jempet-jempetan, seperti TIDAK PUNYA harga diri lagi..”

“Kenapa tidak dana BLT dibuat membangun infrastruktur, membuka lapangan pekerjaan, dll, dsb…bukan hanya MENGHAMBUR-HAMBURKAN uang..”

“Saya Tanya hei para ibu, APA ARTINYA 200.000…?

Itulah perang kata-kata pada pentas politik 2009. Perang kata-kata itu bersumber pada satu topik : Bantuan Langsung Tunai. Dari pihak pemerintah sangat mempromosikan BLT sebagai program yang membantu masyarakat kecil, sementara PDIP sebagai oposisi melihat BLT kurang baik dari sisi sistem pembagiannya yang sangat menyulitkan rakyat yang mendapatkan.

Kali ini perang kata-kata itu seperti tidak ada gunanya sama sekali, hal ini didasarkan pada rencana penarikan BLT kepada masyarakat tidak mampu. Padahal saat itu partai Demokrat (partai pemerintah) saat Pemilu 2009 sangat “menjual” program yang disebut (baca : mereka sebut) membantu rakyat kecil (salah satunya BLT), tetapi apa nyatanya sekarang? Satu tahun sejak janji-janji dan “jualan” BLT diperdengarkan, nampaknya pemerintah saat ini mulai mencoba mencabut pelan-pelan program BLT.

Alasan utamanya adalah membaiknya kondisi perekonomian serta kurang mendidik, seperti yang diutarakan oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Agung Laksono)

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan program BLT pada tahun 2010 dihentikan sementara. “Untuk sementara, pada tahun 2010 ini BLT tidak dianggarkan,” kata Agung Laksono. Menteri menjelaskan, alasan penghentian sementara program BLT sebesar Rp 300 ribu per bulan mulai tahun 2010 ini adalah membaiknya kondisi perekonomian

Serta Menteri Sosial Bachtiar Hamsyah yang menyatakan :

Bachtiar mengatakan, pertimbangan penghentian program BLT karena program itu dinilai kurang mendidik masyarakat. “BLT tidak bisa diberikan secara terus-menerus. Tahun 2009 ini merupakan tahun terakhir penyalurannya,” ujar Bachtiar di Jakarta, kemarin.

Kedua statemen menteri ini seperti menjilat ludah kampanye Pemilu 2009. Sebenarnya sudah sangat baik jika dari dulu BLT dihentikan (atau tidak usah diberikan). Namun menjadi satu realita bahwa isu mengenai BLT, harga BBM, Jamkesmas, dll memang menjadi isu yang dipakai untuk memenangkan partai pada Pemilu 2009 lalu. Genjotan BLT memang efektif untuk meraih suara dalam Pemilu, mudah-mudahan tahun 2014 tidak ada lagi program sejenis BLT, cukuplah aksi seperti ini dilakukan tahun 2009.

Sekarang saatnya manusia Indonesia pelan-pelan sadar, terbuka dan menggunakan akal sehat ketika di kemudian hari akan ada “tipuan” sejenisnya yang membuai dan memberikan janji “surga”. Sebenarnya tidak satupun partai yang tidak memberi janji “surga”, namun mari gunakan akal sehat dan berpikir jernih mengenai tiupan angin surga itu. Mari lihat dan cari informasi dari media yang “murni” mengenai pemimpin-pemimpin kita sekarang, jangan terpengaruh oleh kejutan-kejutan seperti BLT.

Jadi BLT ditarik setuju saja kan!!

Salam Romailprincipe

Iklan

6 thoughts on “Kontradiksi BLT 2009 dan BLT 2010

  1. om_rame

    aaaachhhhhhhhh…………
    Lagi2 poLitik kepentingan, kepentingan poLitik.
    “mulai tahun 2010 ini adalah membaiknya kondisi perekonomian”. ekonominya siapa pak?, masyarakat yg mana pak?.
    “pertimbangan penghentian program BLT karena program itu dinilai kurang mendidik masyarakat”. gimana masyarakat mau terdidik kaLo dewan-nya sendiri aja kemarin bicaranya seperti bukan orang berpendidikan & mau main jotos-jotosan puLa.

    Suka

    Balas
  2. mikha_v

    cara nya bukanlah dengan BLT, tapi dengan mengubah UMR.

    UMR di USA itu 70.000 Rupiah/bulan. Entah itu tukang sampah atau insinyur, gaji minimalnya segitu. Dengan kata lain, satu bulan sudah bisa dapat penghasilan kotor 11 juta rupiah.

    Makanya, orang di USA ngga seperti di indonesia. Ngga perlu mikir besok makan apa, karena penghaslian sudah cukup sekali. Kalopun ngga ada, banyak organisasi sosial yang memberi makan gratis di sini. Kalopun ngga punya rumah & miskin, biasanya orang pemalas / imigran gelap.

    (Yah ini memang hanya angan-angan saya saja seorang yang awam soal politik & ekonomi. Tapi, memang itu kenyataannya. Walau saya tak setuju BLT, tapi 200 ribu itu SANGAT berharga bagi rakyat miskin)

    Suka

    Balas
  3. Ping balik: Buku Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia « Romailprincipe Menulis

  4. Ping balik: JIKA SUATU SAAT NANTI…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s