Ketokan palu sang Pimpinan DPR, siapa yang senang?


Di lobby kantor barusan melihat sekilas siaran TV tentang Sidang Paripurna DPR tentang Century. Flash news nya mengatakan bahwa situasi tidak kondusif. Kemudian mencari informasi di Internet ternyata kejadian ricuh di DPR terkait Century itu salah satunya dikarenakan oleh penutupan sidang oleh Ketua DPR Maruzuki Alie. Keputusan ini menuai kontroversi dan memicu hujan interupsi oleh para anggota DPR lainnya. Beberapa menganggap kebijakan Marzuki Alie itu sangat otoriter. Keamanan dalam DPR dan Polisi yang mengamankan Demonstrasi di luar DPR pun bekerja keras untuk mengendalikan suasana. Chaos dan situasi ini membawa ke dalam beberapa pemikiran : Siapa yang merekayasa? Siapa yang senang? Apa akar masalah? Namun dari pada lelah bertanya-tanya lebih baik melihat saja kronologi riil ricuh di DPR ini.

Kericuhan yang juga disaksikan Presiden ini dipicu oleh perdebatan apakah pengambilan keputusan Pansus akan dilakukan langsung hari ini juga, Selasa 2 Maret 2010, atau Rabu besok. Sesuai keputusan yang diambil dalam Badan Musyawarah DPR, rapat paripurna Pansus digelar dalam dua hari. Sedangkan menurut Akbar Faisal Rapat Paripurna sifatnya lebih tinggi dari Badan Musyawarah DPR. Namun alih-alih mendengarkan interupsi, Ketua DPR malah langsung menutup Sidang Paripurna tanpa meminta persetujuan Pimpinan DPR lainnya. Namun keputusan itu tetap dibela oleh partai Pemerintah saat ini, terbukti dengan pembelaan dengan alibi sesuai rapat Badan Musyawarah.

Salut juga dengan militansi Akbar Faisal dan anggota DPR yang sudah melihat kejadian Ketua DPR menutup rapat sebagai sesuatu yang ‘tidak lazim’. Lebih salut lagi melihat keberanian Ketua DPR yang menutup sidang Paripurna, nampaknya beliau sudah mendapatkan banyak wejangan dan sangat berani pasang badan untuk membelas ‘sesuatu’ atau ‘seseorang’. Ada lagi opini Demokrat bahwa Bambang Soesatyo adalah biang ricuh. Seperti biasa, namanya politik : pasti bisa diputar balikkan.

Siapa yang senang?

Kira-kira siapa yang senang? Jika dihubungkan dengan beberapa opsi pandangan akhir pansus, opini berkembang tentang Century, lobi-lobi yang kuat, ‘tertarik’ nya beberapa partai yang dilobi, terseretnya para politisi anggota parpol yang kritis di Century, rasa-rasanya sudah ada benang merah. Kecuali kalau benang merah ini tercipta dari opini yang begitu kuat dibentuk oleh satu kekuatan yang ingin mendiskreditkan pemerintah.

Rasanya mustahil jika opini ini adalah bentukan, opini paling kuat yang pernah dibentuk selama sejarah Indonesia kemungkinan adalah tentang G 30 S PKI, tentang Pemilu satu putaran yang menghemat, tentang BLT-JAMKESMAS-BOS adalah karya pribadi seseorang, tentang KKN penguasa orde baru. Beberapa hal tadi adalah contoh-contoh opini kuat yang berkembang dan bisa jadi adalah ‘bentukan’ atau karya seseorang dan satu kelompok. Namun mengenai Century? Rasanya Opini yang berkembang bukan berasal dari karya seseorang, bahwa ‘seseorang’ memanfaatkan REALITA Century itu lebih masuk akal.

Yang senang tentang ricuhnya ini adalah pihak yang disudutkan kasus Century, benar begitu? Tetapi lebih senang lagi kalau perjalanan pulang nanti tidak terganggu kerusuhan hanya karena ketokan palu seorang ketua DPR

Updated 3 Maret 2010

Hasil ini tidak jauh beda dengan pandangan akhir fraksi di awal paripurna. Pada saat itu 5 fraksi yakni FPG, FPDIP, FPKS, F-Gerindra, dan F-Hanura secara tegas menyebut memilih opsi C.

Berikut perolehan suara selengkapnya yang dilakukan melalui voting terbuka:
Opsi A (Bailout (FPJP dan PMS) tidak bersalah)
Partai Demokrat: 148
Partai Golkar: 0
PDIP= 0
PKS = 0
PAN = 39
PPP= 0
PKB= 25
Gerindra: 0
Hanura: 0
Total: 212 suara
Opsi C (Bailout (FPJP dan PMS) bermasalah)
Partai Demokrat: 0
Partai Golkar: 104
PDIP= 90
PKS = 56
PAN = 0
PPP= 32
PKB= 1
Gerindra: 25
Hanura: 17
Total: 325 suara
Tidak ada satu pun anggota DPR yang memilih abstain. Sementara itu, dua orang dari Fraksi Partai Golkar tidak hadir, 4 orang dari FPDIP tidak hadir, 7 anggota FPAN tidak hadir, 6 anggota FPPP tidak hadir, dan 1 orang dari Gerindra tidak hadir

Paripurna putus, namanya tapi tidak ada ya?Katanya dulu mau mencoba mengangkat nama yang bertanggung jawab. Atau sebenarnya ini adalah permainan cantik dari Partai Demokrat?

Lebih heran lagi PPP berani menelikung Demokrat.

Lebih heran lagi setelah selesai voting, didahului Anas yang memberi pendapat, nampaknya semua memuji diri sendiri ya? Demokrasi yang hebatlah, ini lah, itu lah? Terus tidak jadi menyebut nama?

Iklan

7 thoughts on “Ketokan palu sang Pimpinan DPR, siapa yang senang?

  1. om rame

    opsi sdh terpiLih & sdh ketok paLu, tp adakah tindak Lanjut dari opsi tsb?. hmmm…
    saLam kenaL dari om_rame Jakarta Utara

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s