Loyalitas atau ‘Loyo’litas??


Loyalitas, kata yang sering terlintas di dunia kerja…Sebenarnya entah itu ‘sungguh-sungguh’ loyalitas atau hanya sekedar proses cuci otak karyawan oleh manajemen. Beberapa kali istilah loyalitas juga mengalami pergeseran, dari loyalitas ke perusahaan menjadi lebih kepada loyalitas kepada bos/pimpinan. Semisal : orang lebih dikatakan loyal ketika jam kerjanya over tetapi tidak menuntut adanya jam lembur, padahal jika didetailkan jam over ini dikarenakan pimpinan (manajer) belum pulang dari kantor, sehingga sebagai bawahan seringkali tidak enak untuk terlebih dahulu pulang. Praktik loyalitas ini menjadi lebih kea rah ABS (Asal Bos Senang) dan sangat membahayakan produktivitas kita.

Terkadang muak juga dengan makna loyalitas di perusahaan. Orang lama sering mengartikan loyalitas dengan kerja keras (bukan kerja cerdas), tidak banyak menuntut dan menyenangkan atasan. Terkadang loyalitas yang diberikan juga menuntut adanya loyalitas dari karyawan lain, atau malah membanggakan keLOYALITASan nya dengan menjelek2an karyawan lain. Huff….Payah deh kalo sudah begini.

Apa sih sebenarnya loyalitas dan pemaknaan sesungguhnya yang tepat dan tidak berlebihan? Menurut kamus bahasa Indonesia, loyal berarti patuh,setia. Jadi hakikat patuh dan setia sebenarnya bukan prinsip ABS, bahkan prinsip ABS ini akan membahayakan arti kata loyalitasitu sendiri. Maksudnya? Yah, dikarenakan loyalitas ABS adalah loyalitas dikarenakan menjilat, atau cari muka, atau demi jabatan/posisi. Sedangkan loyalitas sesungguhnya adalah kesediaan dengan sungguh-sungguh oleh karena kesadaran bahwa ada otoritas yang harus dipatuhi, 2 hal ini (loyalitas ABS dan loyalitas) memiliki perbedaan tipis dalam praktek namun jauh berbeda dari sisi prinsip.

Jadi apa yang harus diperbuat? Sadarlah, bahwa keterpurukan moral ini dikarenakan sifat lingkungan atau kultur yang sangat mementingkan bentuk dan kenyataan di lapangan namun tidak sama sekali memperhatikan prinsip dasar. Jika seseorang memahami prinsip dasar, maka dapat dijamin bentuk tidak akan mempengaruhi. Semisal : prinsip dasar menghemat, jika orang memahami prinsip dasarnya maka ia akan membelanjakan uang pada kebutuhan menurut prioritas namun jika ada yang dianggap penting maka ia tidak akan ragu membelanjakan uang, pada orang yang mementingkan bentuk maka kejadiannya akan berbeda, ia akan sangat pelit mengeluarkan orang untuk semua hal, bahkan di kala kebutuhan itu penting. Tau bedanya?

Di tempat saya bekerja sekarang sering sekali orang-orang menunjukkan ‘loyalitasnya’, sedangkan saya cukup sering pulang tepat waktu, bahkan di kala manajer masih ada. Terkadang saya tidak peduli jika saya dianggap kurang loyal dari sisi jam kerja, atau perhitungan. Namun jika ada kepentingan mendesak saya tidak segan-segan untuk terus bekerja sampai pagi untuk menyelesaikan pekerjaan saya. Hal itu lebih mengarah ke kerja cerdas dan menurut saya lebih profesinal. Apa tanggapan manajer? Dia tidak merespon buruk, bahkan terkesan santai saja, karena terbukti semua pekerjaan saya dapat saya pertanggungjawbkan dan saya selesaikan dengan kualitas tidak buruk. Hal ini menunjukkan bahwa tidak selamanya loyalitas ABS menang terhadap loyalitas sesungguhnya.

Jadi apa yang salah?

Paradigma atau cara pandang atau kerangka berpikir, ketiga kata itu mewakili hal yang harus diubah dalam memandang loyalitas di Indonesia. Jika saja loyalitas itu terjadi dengan sendirinya dan oleh karena kecintaan terhadap pekerjaan yang diemban, maka tentunya tidak menjadi masalah, namun jika loyalitas hanya ditunjukkan melalui kerja over dan tanpa lembur maka di situlah perubahan harus terjadi.

Di mana harus memulai perubahan?

Semua Bos (Top Management) seperti Direksi, Regional Manager, Branch Manager, Manager Divisi adalah orang-orang yang PALING bertanggung jawab atas terjadinya fenomena loyalitas. Mereka senang melihat karyawan mereka sangat (seolah-olah) terlihat setia dan patuh dengan jumlah jam kerja yang sangat tinggi. Level penyelia (Supervisor) terpaksa mengikuti budaya atau karena sudah berakar.

Bagaimana?

Mudah sekali, suruhlah pulang tepat waktu sesekali dan rundingkan manfaat pulang tepat waktu atau kerja efektif di kantor. Dengan begini saya yakin pekerjaan akan semakin terlihat menyenangkan, dampaknya hasil kerja akan semakin berkualitas. Memang sementara waktu perubahan Ini akan memperlihatkan situasi kerja yang kurang baik, karena dalam waktu tertentu kantor telah kosong dan tidak terlihat lagi orang-orang yang biasanya bekerja hingga malam, manajer bisa ikut-ikutan malas. Namun dengan prinsip kerja cerdas, beranikah memulai? Atau memilih menerapkan Loyalitas yang sebenarnya adalah LOYOLITAS???

Tulisan lain Romailprincipe mengenai pekerjaan

Iklan

11 thoughts on “Loyalitas atau ‘Loyo’litas??

  1. michael

    salam kenal,

    Saat ini saya bekerja di perusahaan yang menjujung tinggi “loyalitas” mengenai jam kerja tanpa ada lemburan.
    Ada beberapa teman di bagian yang berbeda, yang saat ini menjalani pekerjaan yang dituntut ke”loyalitas”an yang sangat tinggi. Tetapi saya melihat ada beberapa kejanggalan dikarenakan “loyalitas” yang diterapkan adalah “setiap hari” (tanpa lemburan) dan jika itu pun dilakukan, saya kira pekerjaan itu juga tidak akan pernah selesai, dan itu mengarah ke kerja keras bukan kerja cerdas.
    Dari situ saya melihat bahwa ada pebedaan tipis antara “jam kerja” dengan “loyalitas”.
    Mohon solusi dari permasalahan teman saya ini, karena saya sering menerima keluhan dari teman saya yang kelihatannya sangat “tersiksa” dan berencana untuk mengundurkan diri.
    Mungkin ada tanggapan yang bisa digunakan untuk memperkuat / membenarkan masalah “loyalitas” ini didalam dalam forum meeting dan mengarahkan agar perusahaan juga harus “royal’ terhadap pegawai…
    Terima kasih ….

    Suka

    Balas
    1. romailprincipe Penulis Tulisan

      halo michael..
      Cara / Solusi praktis
      pulanglah tepat waktu selama 1 minggu dengan terlebih dahulu upayakan semaksimal mungkin menyelesaikan seluruh pekerjaan
      delegasikan saat jam kerja beberapa pekerjaan yang terlalu menumpuk kepada rekan yang bisa mengerjakan
      jika tidak selesai juga, jangan terlalu memaksa pulang, melankan selesaikan
      jika memang pekerjaan anda tidak bisa selesai tanpa ‘keloyalan’ maka komunikasikan baik2 ke atasan
      jangan minta uang lembur, karena itu sudah target atasan menekan lembur
      prinsip kerja cerdas, perhatikan 8 jam kerja anda satu hari sudah efektif kah?ato malah banyak lowong?hal kecil seperti ngobrol dan bercanda adalah hal yang sering dilupakan

      jika tidak nyaman juga setelah berbicara dengan atasan dan tidak ada jalan keluar, maka perusahaan memang sedang berjalan dendan ke’loyolitas’ annya… mengubahnya? setahap demi setahap..mungkin anda bisa meulainnya, meski anda tetap over time tanpa lembur, tapi bawahan anda bisa anda potong banyak jam kerjanya dan pulang lebih awal.. senang kan bawahan pulang lebih awal..hehe

      Suka

      Balas
  2. mikha_v

    Saya belum memiliki pengalaman kerja sih jadi belum bisa memahami lebih dalam dunia kerja. Tapi saya setuju bahwa mentalitas loyalitas karena ABS berbahaya. Karena sumber motivasi utamanya adalah si “Boss”, bukan atas kecintaan terhadap pekerjaan.

    Dan justru loyalitas ABS ini menunjukkan karakter yang kurang berintegritas (integritas itu apa ya? pokoknya sebuah kata yang sering diucapkan motivator hahaha 😛 )

    Suka

    Balas
  3. Ping balik: Lembur ?—-[Haruskah]— « Romailprincipe Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s