Pelajaran dari Tukang Ojeg


Sebut saja Mamad (47 tahun), sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojeg. Pagi hari Mamad akan menjemput saya di rumah dan mengantar saya ke daerah Blok M. Setelah itu dia akan menunggu 2 orang langganannya di daerah Panglima Polim, kira-kira jam 11:00 ia beristirahat di warung tongkrongan nya sambil menunggu sms atau panggilan dari pelanggan lain. Sekitar jam pulang kantor Mamad kembali menjemput saya di tempat yang telah kami berdua sepakati. Sekitar pukul 21:00 Mamad pulang ke rumah dan membawa uang hasil kerjanya untuk diserahkan pada isteri tercinta.

Berapa kira-kira pendapatan Mamad? Jangan terlalu kaget kalau pendapatan kotornya bisa mencapai Rp 150.000-250.000 per hari, dipotong bensin dan uang makan maka Mamad membawa pulang sekitar Rp 100.000-150.000, dengan catatan jumlah tersebut adalah jumlah paling minim. Terkadang jika membawa langganannya (bos dari Filipina, Staff BI, keluarga pejabat Kejaksaan Agung) maka uang sejumlah Rp 300.00-Rp 400.000 bisa dibawa pulang. Dengan bekerja 23-25 hari per bulan (dipotong waktu reparasi motor dan istirahat bersama keluarga), maka minimal Mamad memiliki penghasilan Rp 3.000.000 dan dengan penghasilan ‘plus’ dari bos-bos yang ia bawa, maka Rp 4.000.000-Rp 5.000.000 menjadi akan menjadi rejeki Mamad.

Mamad tidak jumawa dengan hal itu, hidupnya tetap irit, anak-anaknya (2 orang) diajarkan untuk hidup bersahaja. Ia sering berkata pada anaknya “Ingat nak, Bapak hanya seorang tukang Ojeg”. Mamad tidak bermimpi menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi, target terdekatnya adalah membuka satu usaha kecil seperti usaha counter HP, warung tegal, angkringan atau jualan sembako dengan mengkaryakan anak sulungnya sebagai pengelola usaha tersebut.

Mamad, contoh kecil yang membuat saya lebih memahami hakiki kehidupan. Tidak pernah keluhan terdengar dari nada bicaranya, tidak ada penyesalan atas profesi nya sebagai tukang ojeg. Saat banyak tawaran usaha “hitam” (kurir narkoba, bisnis fiktif, dll) Mamad tidak mengambilnya, dan tetap berjalan pada jalan terjal yang penuh dengan simbah keringat setiap hari. Jika saya memintanya menjemput, maka Mamad selalu ada 15 menit sebelum waktu yang dijanjikan, bahkan di kala saya terlambat karena hal-hal yang tak terhindarkan, Mamad tetap menunggu dengan penuh kesabaran. Kadang saya begitu mengagumi kesetian dan dedikasinya, pepatah “Setia terhadap perkara-perkara kecil” sungguh hidup di dalamnya, saya yakin dalam  “perkara-perkara kecil” yang dengan setia dijalaninya, maka suatu saat akan mendapat “perkara-perkara besar” yang membuat roda kehidupan Mamad dan keluarganya lebih baik lagi di kemudian hari.

8 thoughts on “Pelajaran dari Tukang Ojeg

  1. Ping balik: Pelajaran dari Tukang Ojeg | Update Blog Terbaru

  2. vtrediting

    Sama dengan Mamad, sahabat kampung saya sebagai penarik becak yang telah dilakoni sejak tahun 1970 dan sampai sekarang masih menjual jasanya mengantar pelanggan ke tempat tujuan tanpa mengeluh. Ketika saya pulang kampung saya menggunakan jasa becak sahabat ini untuk mengantar ke stasiun kereta api Solo Balapan.
    Dalam setiap mengantar saya sempatkan mengajak makan bersama di warung makan depan stasiun.
    Perjalanan hidupnya sebagai penarik becak telah dilakoninya selama hampir 40 tahun dengan tubuh yang masih gagah, anak-anaknya tumbuh sehat dan cantik manis, sekolahnya juga menginjak SLTA.
    Kisah hidupnya pernah aku posting di blog ini dengan judul Mas Rubiman Sahabatku. Dengan Mas Rumbiman inilah aku belajar kesederhanaan dan saling tolong menolong asah,asih dan asuh.

    Suka

    Balas
  3. grandchief

    Memang pak mamad sangat cocok tuk dijadkan teladan bagi kita semua terkadang hidup yang serba sedrhana dapat membuat kita lebih mengerti akanarti dari kehidupan kita membuat kita lebih bijaksana dlam mengambil suatu keputusan.

    Suka

    Balas
  4. Ping balik: “Mamad, Ojeg saja sudah cukup bagiku…” | Romailprincipe.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s