Dunia Hambar dan Dingin..


Setelah kira-kira 9 tahun tidak menetap di Jakarta dan berkeliling beberapa kota untuk sekolah, kuliah dan bekerja akhirnya kurang lebih setengah tahun lalu kembali ke Jakarta, pernah juga menuliskannya di Ritme Hidup Jakarta. Setelah beberapa lama kemudian, semakin menyadari apa yang terjadi di sekeliling dan mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan. Satu hal yang pasti, memperhatikan lingkungan yang semakin hambar dan dingin, tidak ada lagi pancaran kasih dan perhatian mendalam antara sesama.

Tetapi memang itu dampak dari tekanan juga, hidup menyebabkan dunia makin hambar dan dingin. Ketika pekerjaan menyibukkan, sms dan telepon ke orang-orang terdekat (Ibu, Pacar, dll) bahkan bisa terlupakan. Sampai hari lewat dan baru menyadari, kenapa ya lupa hubungi si A, si B dan si C??

Tempat umum seperti Bis, terminal, tempat makan, interaksi dengan orang tidak dikenal telah nyaris punah, bahkan jika ada maka lirikan dan tatapan curiga langsung merebak. Tidak ada lagi kehangatan untuk menyahuti sapaan, senyum ramah dan hasrat bersosialisasi. Memang strategi Iblis cukup sukses, dengan menebar curiga dan kejahatan, maka interaksi antar manusia dikurangi. Dengan memberi materi melalui pekerjaan maka orang (baca : saya) bisa dibuat bertekuk lutut dan menyembah kepada satu “tuhan” baru berupa uang.

Dingin dan hambarnya dunia bahkan sudah sampai kepada sikap cuek dan acuh terhadap kejadian sekitar, betapapun menyakitkan, terkadang orang juga dengan mudah konfrontasi dengan orang lain. Memaki, menggosip, menceritakan keburukan orang lain dilakukan dengan penuh sadar apa yang diomongkan adalah menjelek2an orang. Bahkan beberapa berani melakukan itu demi alasan jabatan, harta, dan yang paling gila melakukan itu semua tanpa alasan jelas atau demi kepuasan hati.

troublemakerAdakah hati dipuaskan? Atau kembali Iblis yang sedang merajalela di hati dan pikiran orang (baca : saya). 9 tahun lalu saya pernah bermain dalam lingkungan ‘gelap’, saya lihat lingkungan ‘gelap’ itu saat ini sudah hampir tidak ada, namun penggantinya luar biasa…Variasi ke’gelap’an yang ditawarkan jauh lebih banyak, lebih bervariasi dan menjerumuskan dengan cara halus dan lembut, tidak seperti dulu yang sudah jelas hitam putihnya.

Kemerosotan moral memang bisa saja sedang terjadi, namun dalam pihak yang juga berada di tengah-tengah kemerosotan moral itu, terkadang setiap orang mengacuhkan hal ini. Apakah kemerosotan moral yang menyebabkan dunia begitu dingin dan hambar?

Memberi Rasa dan Menghangati nya…

Hmm..jika diihat lagi kemungkinan menghangatkan dunia ini sulit juga, di tengah-tengah ketidakberdayaan manusia menghadapi sistem yang bekerja luar biasa cepat di sekitarnya maka rasa dingin dan hambar terus menerpa setiap pribadi. Agama, yah Agama. Kepercayaan adalah jawaban satu-satunya, mampu menghangatkan orang-orang, menerangi hati dan pikiran, meluruskan jalan.  Agama atau kepercayaan menjamin juga ‘hasil’ kehidupan manusia, yang sesungguhnya kehidupan itu tidak layak diganjar oleh kebaikan Pencipta, namun layaknya diganjar ke dalam satu kehidupan kelam dan penuh dengan kertak gigi. Dalam proses memahami kepercayaan itu, semua akan mengalir kepada kehidupan sekitar. Semisal dalam kitab suci diperintahkan untuk menolong orang, dalam merenungkannya mungkin banyak tindakan praktis untuk menolong orang. Mengambil minuman, membukakan pintu, membelikan makan siang, dll. Jika begitu, kehangatan akan lebih memancar satu sama lain. Kitab suci (apapun itu) yang dibaca mengalir menjadi satu kehidupan nyata, atau contoh kehidupan teladan dalam satu kepercayaan bisa terpancar dan dinikmati orang-orang. Jika yang kebanyakan yang dilakukan adalah tindakan yang buruk, bagaimana saya bisa mengatakan saya tengah menjalankan kehidupan beragam yang baik?

Dalam pemikiran, pernahkah muncul rasa berat, jenuh dan menjurus keputus asaan? Inilah yang menurut saya suatu bahaya besar dari dunia hambar dan dingin, suatu keadaan yang sebenarnya ingin (jika boleh) dengan ‘sim salabim’ ditiadakan. Saya melihat ada orang terkena stroke karena pikiran, darah tinggi. Ada juga yang sampai sekarang hubungan persaudaraan jadi luntur karena sikap kasar dan keras. Tiadanya kehangatan adalah definisi dingin, tiada rasa adalah definisi hambar. Jadi dengan memberi rasa dan kehangatan pada dunia ini, sebenarnya setiap orang mampu menebar benih dan bibit penghindar stress, bibit motivasi, bibit semangat, bibit-bibit lain yang menjauhkan iblis dan setan merusaki sistem kehidupan manusia.

Memberi rasa di tempat pekerjaan dengan menolak setiap tindakan kecil yang mengindikasikan korupsi, semisal menukar bon yang jumlahnya tidak sesuai dengan pengeluaran. MESKIPUN itu sudah biasa dan jadi tren dalam kehidupan antar karyawan. RESIKO  dibenci adalah hal terburuk jika berani melakukan dan membukakan setiap hal yang benar. Membari kehangatan dengan memancarkan semangat kehidupan, semangat yang berasal dari pemberian yang Kuasa, bagi saya tidak ada sedikitpun kebolehan saya memberi semangat kepada orang karena saya “lebih hebat”, “lebih bersemangat” dan “lebih segalanya”,…simpel saja, saya memberi semangat, karena sekali lagi Pencipta telah memberi semngat baru setiap pagi kepada saya, dan Ia menginginkan juga supaya saya menceritakan kepada setiap orang yang saya temui…

Suatu saat keadaan di surga dalam pemikiran saya akan dipenuhi apa yang saya maksud “rasa” dan “hangat” dalam tulisan ini, suatu tempat dimana “hambar” dan “dingin” dieliminasi oleh kebesaranNya. Semua orang diliputi kebahagiaan, tidak ada tangisan dan muram durja. Sapaan hangat dari orang lain tidak membuat kita berpikir bahwa orang ini akan menghipnotis saya, jika ada ornag membawa tas, tidak terpikir bahwa dia membawa bom, jika ada pemilihan ketua, tidak berpikiran yang menang dilakukan dengan curang…Suatu saat nanti..hmmm

Iklan

18 thoughts on “Dunia Hambar dan Dingin..

  1. perigi tua

    haddiiirrrrrr…..pertamaxxxx…………
    pagi2 gini olah raga dulu, jalan-jalan ngunjungi sahabat tersayang, sapa tAu ada kopi item panas bin kentel ama pisang goreng anget… Hhhmmm… Nyammy…
    semoga kebahagiaan menyertaimu hari ini
    cu…

    Suka

    Balas
    1. perigi tua

      Hhhmmm…
      cerita yang panjang dan menarik, memberi jedas untuk perenungan…. Pernah di gelap menuju yang terang, hanya agama yang bisa dijadikan andalan….
      cu………..

      Suka

      Balas
  2. defrimardinsyah

    Kunjung balas…
    tanpa disadari.. dunia telah berubah… manusia berubah, masyarakat dan budayapun berubah.. berubah entah menuju arah yang tak jelas…

    apa yang merubahnya… ?
    Sinetron yang menampilkan pertentangan perebutan harta dan kuasa dengan menghalakan segala cara..

    TV Show yang menampilkan pria-pria lemah gemulai, yang dipuja-puja karena lucu dan menghibur…

    dan hal sepele lainnya….
    Apakah kita perduli…..akan penyebabnya ?

    maka nikmati sajalah dunia yang hambar dan dingin….
    atau mulai merasa menata dan membenahi dengan seluruh kekuatan atau hanya seadanya….

    terserah……
    terserah kita…
    salam

    Suka

    Balas
  3. Mas Tyas

    *ikut prihatin* hidup ini sangat indah sobat, sangat indah.. hangat dan damai.. Mari kita saling berbagi dan melihat, mendengarkan, menyatakan, menggambarkan dan mewujudkan segala sesuatunya dengan baik. Sangat indah sobat.. *back to nature.. alam selalu memberikan yg terbaik, dan kita adalah bagian dari alam, atau kita akan tertolak oleh harmoni alam* Salam damai.. 🙂

    Suka

    Balas
  4. callighan

    Wajar lah.
    Fenomena sosiologi kota besar memang begitu. Mau di New York, Vienna, London, Amsterdam, rata-rata pengalaman sosialnya sama dengan di Jakarta.
    Cuma bedanya di Jakarta lebih kumuh saja.
    Nah, mas romailprincipe saya pikir adalah orang hebat yang bisa menjadi orang yang berprinsip baik dan mengambil inspirasi serta semangat hidup dari yang Maha Kuasa dan kawan yang baik.
    Nice guys finish last. But they finish nonetheless.

    @defrimardinsyah
    “TV Show yang menampilkan pria-pria lemah gemulai, yang dipuja-puja karena lucu dan menghibur…”
    Eksploitas mas. Keunikan perilaku kelompok sosial kecil yang dieksploitasi demi keuntungan material mengakibatkan penyiaran nilai-nilai yang berlawanan dengan nilai sosial yang dominan.
    Namun Bukan berarti keunikan kelompok sosial kecil tadi buruk.

    Suka

    Balas
  5. wiek

    renungannya dalam…sampai-sampai saya pun jadi sadar sering mengalami seperti yang Mas rasakan. Ternyata dampak mengikuti dunia kerja kiy begitu..bisa menciptakan rasa hambar..butuh garam dan gula kehidupan untuk memberi rasa lain

    Suka

    Balas
  6. sociopolitica

    Menyampaikan gagasan dan pikiran-pikiran yang baik dengan cara yang baik, mampu membantu mencerahkan dan menghangatkan kehidupan bersama di antara manusia di bumi ini. Setetes demi setetes, tak mengapa, daripada tidak. Anda telah melakukannya kan?

    Suka

    Balas
  7. Ping balik: Salam Bagi Sahabat « Romailprincipe’s Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s