Penerapan Lean Manufacturing pada Aktifitas Pergudangan


Lean adalah suatu upaya terus menerus untuk menghilangkan pemborosan dan meningkatkan nilai tambah produk agar memberikan nilai kepada pelanggan. Pada fakta di lapangan konsep lean akan tergambar pada rasio-rasio antara nilai tambah dibandingkan pemborosan. Di Indonesia rasio nilai tambah dengan pemborosan masih sekitar 10% dan baru masuk ke tahapan lean jika rasio telah mencapai 30%. Begitulah pembukaan paragraph pendekatan lean pada bukuLean Six Sigma for Manufacturing and Service Industries”.

Membaca pembukaan buku itu dan melihat kepada aktifitas tempat kerja, sungguh anggapan saya semua itu adalah teoritis dan tidak mungkin diterapkan. Beberapa alasannya adalah :

  1. SDM berkualitas pada level lulusan SMA sangat minim, dengan gaji UMR mentalitas mencari lembur adalah waste tersendiri.
  2. Terlalu banyak variabel eksternal yang tidak dapat dikontrol dan diselesaikan, sehingga aktifitas pekerjaan tidak dapat stabil. Kalaupun stabil adalah stabil pada batas kontrol bawah.
  3. Parameter biaya dan pengeluaran yang dibatasi, sehingga segala bentuk inovasi yang memerlukan biaya sulit dilakukan, sekalipun bisa diperlukan riset mendalam yang memakan kapasitas, di lain hal aktifitas harian tetap memakan kapasitas.

Pemikiran tersebut sedikit terbuka ketika membaca bahwa Lean didefinisikan sebagai suatu pendekatan sistemik dan sistematis untuk mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan serta aktifitas tidak bernilai tambah melalui peningkatan terus menerus secara radikal dengan cara mengalirkan produk dan informasi menggunakan sistem tarik dari pelanggan eksternal dan internal untuk mengejar keunggulan dan kesempurnaan.

Selanjutnya semakin menarik ketika dideskripsikan jenis-jenis pemborosan dan contoh-contoh penerapan lean pada beberapa jenis industri. Ingatan saya terbawa kepada sistem kaizen yaitu prinsip peningkatan kualitas terus menerus meskipun dalam tahapan-tahapan kecil.  Kata kunci nya adalah peningkatan terus-menerus dan setiap hari. Kemudian dari kata kunci tersebut dan aktifitas pergudangan di sekitar saya maka mulai muncul ide-ide liar serta mimpi-mimpi bahwa saya mampu membawa konsep ini kepada tim yang akhirnya akan mengimplementasikan pendekatan lean itu pada aktifitas pergudangan.

Ide kecil yang dilakukan secara konsisten dan sistematis memerlukan suatu konsep yang kuat. Sebelum mengimplementasikan Lean pada aktifitas sekitar, maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi seluruh alur pekerjaan pada aktifitas pergudangan.
  2. Mengidentifikasi pemborosan pada alur pekerjaan yang telah diidentifikasi.
  3. Melihat kemungkinan adanya pertambahan nilai dalam aktifitas pergudangan atau menghilangkan pemborosan.
  4. Mencoba membuat sebuah simulasi mengenai rasio nilai tambah dan pemborosan yang diidentifikasi.
  5. Mempresentasikan simulasi kepada tim.
  6. Implementasi dan Evaluasi.
  7. Melakukan perbaikan terhadap implementasi.

Sebenarnya mirip siklus PDCA juga jadinya, tetapi inilah yang ada di pikiran saya. Apa sih pemborosan pada aktifitas pergudangan? Tentunya pemborosan yang paling utama adalah biaya. Pemborosan biaya dibentuk dari komponen-komponen lain, misalkan barang rusak, hilang, biaya gaji dan lembur, listrik, air, makan, minum perbaikan dan beberapa hal lain yang muncul sesuai karakteristik setiap gudang.

Kemudian mengenai nilai tambah, apa saja yang merupakan nilai tambah pada aktifitas pergudangan. Hal ini memerlukan data dan fakta lebih lanjut, namun beberapa pengamatan di website dan buku-buku serta tempat kerja, nilai tambah akan meliputi beberapa hal :

  1. Nilai tambah terhadap perubahan besar (high cost)
  2. Nilai tambah terhadap perubahan kecil (low cost)

Saya mungkin akan sedikit mereview mengenai perubahan berbiaya rendah. Semisal set up time yang lama, ketika perkerja datang maka tidak langsung bekerja. Terkadang datang merokok terlebih dahulu, makan pagi, bercanda, dll. Maka akan lebih baik dibuat secara regular briefing pagi setiap jam masuk, selama 5 menit, membacakan target hari ini dan memeriksa kesiapan pekerja gudang. Briefing juga ditutup dengan pembacaan doa, hasilnya seluruh pekerja gudang tahu apa target hari ini, dan langsung bergerak ke tempat mereka akan beraktifitas.

Hal lain yang memberi nilai tambah adalah kualitas dan kuantitas barang. Pelanggan eksternal sering melakukan complain jika kualitas dan kuantitas barang tidak sesuai dengan pesanan. Setelah dianalisa ternyata diakibatkan beban kerja berlebih, pekerja gudang minim, sehingga bekerja tidak lagi optimal. Kemudian dihitung biaya karena complain dan kehilangan pelanggan lalu dibandingkan dengan penambahan orang yang dilakukan, ketika perhitungan dan analisa menyatakan bahwa penambahan orang akan memberi nilai tambah yang lebih dibandingkan dengan pengeluaran maka keputusannya adalah penambahan orang, jika nilai tambahnya lebih kecil, maka keputusannya adalah tetap pada kondisi saat ini.

Masih banyak penerapan lean dalam aktifitas pergudangan, beberapa ada dalam konsep dan beberapa sudah berjalan. Ada beberapa kegagalan, dan ada beberapa yang menghasilkan. Mimpi saya suatu saat bekerja dalam perusahaan yang memiliki cacat sangat kecil mendekati zero defect atau bisa juga 3,4 DPMO…Suatu mimpi yang luar biasa.

Tulisan lain romailprincipe mengenai logistik

Iklan

3 thoughts on “Penerapan Lean Manufacturing pada Aktifitas Pergudangan

  1. sjafri mangkuprawira

    bung romail….apakah penerapan lean dalam kegiatan pergudangan ini…ujung-ujungnya berkait dengan pelayanan prima pada pelanggan?…misalnya bicara tentang mutu dan delivery system, komitmen, kepercayaan,kecurangan,biaya,dsb….intinya bagaimana menciptakan dan membangun serta memelihara loyalitas pelanggan…..

    Suka

    Balas
    1. romailprincipe Penulis Tulisan

      Sebenarnya dalam pemaparan bab 1 dari lean (dari buku vincent gazpers) ini hanya memaparkan apa sih prinsip lean itu dan mimpi saya dalam menerapkan di pergudangan pak. Ujungnya customer satisfaction itu pasti, customer internal dan eksternal. Pengiriman barang kualitas dan kuantitas baik serta tetap menjaga dan sedapat mungkin menghilangkan pemborosan. Saya mencoba mendeskripsikan lebih mendarat saja, khususnya dalam aktifitas gudang yang rawan pemborosan. Begitu pak..

      Suka

      Balas
  2. Rafi

    mas rom, saya sangat tertarik dgn mimpi mas rom tuk menerapkan konsep Lean di pergudangan,,

    kalau bisa saya jg ingin belajar mendalami materi Lean dan penerapannya di pergudangan mas,,
    kalau ada materinya, tolong di kirim ke emali ini nwfounder@gmail.com
    tks

    Lean Warehousing ya, bagus untuk yang masih praktek di operation warehouse nih..

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s