Ekonomi Kerakyatan Versi Romailprincipe


Ekonomi Kerakyatan Versi Romailprincipe….(dari berbagai sumber)

Menarik mengupas Ekonomi Kerakyatan lebih dalam dan mendarat, meskipun setelah dilihat2 judul ini memang kurang komersil (ada tambahan versi Romailprincipe), tapi tak apa, mencoba mengupas dari sisi penulis ini dengan berbagai sumber. Pengertian Ekonomi Kerakyatan Ekonomi Kerakyatan adalah sistem ekonomi yang menekankankan pada dimensi keadilan dalam penguasaan sumberdaya ekonomi, proses produksi dan konsumsi. Dalam ekonomi kerakyatan ini kemakmuran rakyat lebih diutamakan daripada kemakmuran orang per orang (www.satudunia.com). UGM sendiri merubah nama Pusat Studi Pancasila menjadi Pusat Studi Ekonomi pada tahun 2006, pusat studi ini mengupas secara teoritis aspek Ekonomi kerakyatan. Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dalam situsnya menyatakan

Permasalahan yang digarap oleh PUSAT STUDI EKONOMI KERAKYATAN-UGM tidak dapat dipisahkan dari semakin dominannya pengaruh globalisasi dalam penyelenggaraan ekonomi Indonesia. Saat ini globalisasi memang merupakan mantra yang selalu harus dilekatkan pada setiap gerak ekonomi, bahkan menjadi resep mujarab (prescription) bagi pemecahan berbagai masalah dunia. Ada keyakinan global bahwa  perdagangan dan pergerakan kapital dan informasi yang berlangsung secara bebas akan menghasilkan hal terbaik bagi kemajuan perekonomian dunia.

Dengan demikian, globalisasi dan liberalisasi dipandang sebagai cara terbaik dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia.  Itulah kini yang banyak diyakini orang dan secara sistematis disosialisasikan oleh IMF, Bank Dunia, dan organisasi perdagangan dunia (WTO). Globalisasi dalam pengertian inilah yang  disebut dengan globalisasi neoliberal. Neoliberalisme adalah satu gerakan yang ingin mengusung ideologi kapitalisme-liberalisme klasik yang mendambakan kebebasan penuh, yang pada akhirnya mempengaruhi pola pikir dan kebijakan ekonomi di negara-negara sedang berkembang.”

Jadi sebelum adanya Pemilu 2009, telah ada pusat studi yang dengan serius meneliti mengenai Ekonomi Kerakyatan, sayang saya belum mendapatkan hasil nyata dari pusat studi ini. Dengan jelas statement pada Pusat Studi Ekonomi UGM (yang notabene adalah Kampus tempat Cawapres mengajar) adalah “Neoliberalisme adalah satu gerakan yang ingin mengusung ideologi kapitalisme-liberalisme klasik yang mendambakan kebebasan penuh, yang pada akhirnya mempengaruhi pola pikir dan kebijakan ekonomi di negara-negara sedang berkembang.” , lalu apa kesamaan dengan pasangan capres dan cawapres dengan Neoliberalisme ataupun dengan Ekonomi Kerakyatan?

Sulit sebenarnya menilai itu berdasarkan jargon2 politik ataupun hasil promosi tim sukses. Misalkan saja kenapa ada yang dinilai neolib?mungkin peran besarnya adalah serangan dari lawan-lawannya atau memang sebenarnya menganut neolib.

Jadi bagaimana Ekonomi Kerakyatan?

Ekonomi Kerakyatan,  Menarik pelajaran dari situs satudunia.com salah satunya mengangkat permasalahan praktik Oligopoli pasar susu rugikan petani kecil. Semasa di kampus saya selalu di doktrin bahwa kualitas susu dari peternak Indonesia sangat rendah. Faktor penyebabnya adalah proses produksi yang kurang higienis, bibit sapi yang kurang baik serta kualitas SDM peternak susu. Jawaban ekonomi kerakyatan pada kasus ini merupakan contoh nyata, semisal pemerintah mengusahakan bagaimana peternak lokal mampu menghasilkan susu yang diserap oleh Industri Pengolah Susu (yang notabane sebagian besar dikuasai perusahaan Swiss).

Saya kutipkan pernyataan Cecep Risnandar pada situs satudunia.com

“Liberalisasi susu semakin menggila dengan keluarnya Peraturan Menteri Keuangan No. 145 Tahun 2008 yang menyebutkan bahwa sesuai peraturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bea masuk susu impor harus nol persen pada tahun 2017 mendatang.  Liberalisasi ini terus berlanjut hingga pada bulan Agustus 2008 pemerintah menandatangani kesepakatan perjanjian perdagangan bebas negara-negara Asean, Australia dan New Zealand (AANZ FTA). Dalam perjanjian perdagangan bebas ini, Indonesia dikatakan mendapatkan keuntungan bebas tarif masuk barang ke Australia dan New Zealand, namun tentunya Indonesia juga harus membuka pintu masuk terhadap barang-barang dari Australia dan New Zealand, seperti susu. Menyusul penandatangan AANZ FTA ini pada tanggal 13 Februari 2009 dikeluarkanlah  Peraturan Menteri Keuangan No. 19 tahun 2009 tentang penetapan tarif bea masuk atas barang impor produk-produk tertentu. Di mana dalam peraturan tersebut ditetapkan bahwa tarif bea masuk untuk skim milk powder, full cream milk, yoghurt, buttermilk dan produk susu lainnya sebesar nol persen!”

Selengkapnya analisa mengenai kasus susu di atas dapat dilihat pada

http://www.satudunia.net/?q=content/praktik-oligopoli-pasar-susu-rugikan-petani-kecil

Jadi jelas dari satu kasus saja bahwa Ekonomi Kerakyatan dapat diwujudkan saat kesejahteraan peternak susu menjadi lebih baik. Peternak susu mampu menghasilkan susu berkualitas baik dengan harga bersaing. Ekonomi Kerakyatan bukan soal berbicara di televisi atau berjanji manis dan memasang iklan, tetapi Ekonomi Kerakyatan yang mampu mengatur sistem perekonomian Indonesia untuk memakmurkan rakyat bukan individu. Pernyataan ini mengandung bias makna juga.

Apa artinya memakmurkan rakyat bukan individu?

Sebenarnya memakmurkan rakyat bukan individu sangat terkait dengan integritas personal setiap individu, misalkan saja dengan mudah seseorang bisa mendirikan koperasi dengan dalih memakmurkan petani namun alih-alih memakmurkan, yang ada malah jadi tengkulak mini dan menangguk keuntungan dan membuat rugi peserta koperasi.

Memakmurkan rakyat adalah ketika saya memiliki satu unit usaha kecil menengah (misalkan kerajinan tangan) dan memiliki perhitungan Pay back Period, BEP, ROI tersendiri. Ketika semua terealisasi dan profit meningkat nah di sini adalah momentumnya. Peningkatan profit yang saya capai akan saya alokasikan ke mana? Ada beberapa pilihan, tetapi seorang neolib menurut saya akan mengalokasikan penambahan profit ke tabungan pribadi, atau keuntungan pribadi. Sah saja bukan?Kebebasan penuh, keberhasilan mengelola usaha. Tetapi seorang bervisi kerakyatan akan selalu mengusahakan kesejahteraan orang lain, jadi peningkatan profit bisa digunakan untuk ekspansi bisnis demi menjangkau pengangguran lain atau peningkatan taraf hidup pekerja. Terlalu idealis? Benar saja, siapa sih yang gak ngiler melihat penambahan profit yang tinggi. Analoginya dengan Pemerintah, Pemerintah Neolib akan selalu melihat pemodal besar sebagai kesempatan untuk peningkatan investasi dan menggairahkan ekonomi sektor riil tanpa memperhatikan lebih detail ke dalam. Ketika justru pemodal besar semakin Berjaya dan semaikin kaya serta menutup keran-keran kecil untuk rakyat yang lebih banyak maka di sinilah Neoliberalisme diterapkan secara fasih.

Contoh riil : Dibukanya Blok M Square yang menutup kesempatan pedagang kecil untuk ikut memiliki kios. Kenapa dikatakan menutup? Harga jual yang selangit membuat daya saing pedagang menurun. Sistem Ekonomi diserahkan ke pasar, Pengelola Blok M Square yang memilik kekuatan Finansial besar akhirnya menempatkan peritel asing dalam tempat itu, bisa ditebak sekalipun ada pedagang kecil, maka alokasi pengeluaran konsumen akan besar kepada peritel asing tersebut. Jika anda berjalan ke blok M Square maka banyak toko yang belum laku terjual.

Jadi tantangan Ekonomi Kerakyatan yang sesungguhnya tidak hanya pada tingkatan pedesaan (Petani, Nelayan dan Peternak), tetapi pada tingkatan Pemerintah Daerah dengan regulasinya di perkotaan. Semakin menjamurnya Hypermarket, Supermarket maka kesempatan orang lain untuk berusaha akan mengecil. Loh bukannya itu membuka lapangan pekerjaan? Ya, benar. Pada level Kasir, Pramuniaga, Sales Promotion Girl akan menyedot tenaga kerja yang besar. Tetapi kemanakah margin rupiah terbesar dibawa? Ke pemodal besar itu, pemilik Hypermarket dan Supermarket, konsumsi perkotaan diarahkan kea rah sana itu tidak salah, tetapi daya saing pedagang kecil yang menurun dan akhirnya mati akan menjadi jawaban siapa sesungguhnya yang sanggup menerapkan Ekonomi Kerakyatan.

9 thoughts on “Ekonomi Kerakyatan Versi Romailprincipe

  1. bombounyil

    wow ternyata mas..juga pakar ekonomi..,Pertanian and inventory.., kalau saya sih..cuma tau nulis masalah reliji..sharing ya mas..

    Suka

    Balas
  2. TONI

    salut pak, luar biasa! pemikiran sy tentang Ekonomi Kerakyatan terbuka skr. Yang mnjd pertanyaan skr ; Berangkat dari manakah pemerintah seharusnya unk memberdayakan pengusaha kecil dan siapkah pemerintah skr melakukannya. Klao mau jujur aktifitas perekonomian akan selalu identik dan tergantung pd karakter masing masing pelaku ekonomi, entah sudah menjadi hukum ekonomi atau sifat dasar manusia bahwa tujuan utama adalah profit, tak peduli yang lain hancur, atau bangkrut yang penting gue untung! bener g pak?

    Suka

    Balas
    1. romailprincipe Penulis Tulisan

      yup, kadang kesungguhan orang-orang tertahan oleh kepentingan pribadi (memperkaya diri sendiri). bisa saja ketika di luar sistem teriak2, ketika berada di dalam sistem sudah kehilangan konsistensi nya..

      Suka

      Balas
  3. mulyati

    apa bedanya ekonomi campuran dengan ekonomi kerakyatan ya mas… karena di buku ips smp indonesia menganut ek campuran bukan liberal dan sosial , yang bener Indonesia pake sistem ekonomi yang mana yaa…

    Suka

    Balas
  4. romailprincipe Penulis Tulisan

    mirip dengan sistem ekonomi, monopoli atau oligopoli? Indonesia di tengah2 nya..
    Prinsip sebenarnya pasal 33 UUD 1945 kalau gak salah, tetapi makna “menggunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat…” sering dibenturkan kepada kepentingan atau motif ekonomi kaum kapitalis.
    Mau contoh? Gampang, liat saja Mall dan Hypermarket besar di Jakarta. Bumi, Air dan kekayaan alam di sana telah berada pada genggaman pemodal besar, jatah “rakyat” hanya lah pada tempat2 yang lebih kumuh

    Suka

    Balas
  5. wahyu prawiranegara

    Tulisan yang sangat bermanfaat, memang harus selalu kita tanamkan kepada diri kita sendiri harus memulai menjadikan kita sebagai model ekonomi kerakyatan. maksudnya adalah menjadikan kita untuk menjadi wirausaha dengan mengambil bahan baku yg dari dalam negeri, dan bertekat sekuat kuatnya untuk meningkatkan keuntungan dan memberikan kesejahteraan kepada karyawan dengan meningkatkan dan mengembangkan kemampuan karyawan.

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s