Partai Politik terkena Devide et Impera?


glass-1Saya ingat semasa SMA saya senang sekali mempelajari Sejarah. Perkataan “Jas Merah” yang merupakan kepanjangan jangan sekali-sekali melupakan sejarah itu benar-benar melekat. Dahulu Belanda berhasil menjajah Indonesia dengan politik Devide Et Impera, yang merupakan politik memecah belah antara bangsa Indonesia sendiri. Begitu mudahnya dahulu bangsa Indonesia diadu domba dan saling berpedang satu sama lain. Bahkan beberapa kali penangkapan pejuang juga melalui informasi orang dekatnya. Saat ini Politik adu domba hadir dengan motif baru dan gaya baru, korban baru, tujuan sama….

 

Sekarang ini para elite politik pasti menyadari, bahwa mereka sedang terpecah belah, bahkan dalam tiap-tiap parpol yang menduduki 10 besar  dalam pemilu legislatif lalu. Bapak JK sendiri dalam satu kesempatan seperti merasani pihak-pihak yang memecah belah, betapa JK merasa statement Muladi yang menginginkan bahwa Golkar sebaiknya rujuk dengan PD serta surat dari DPD yang menginginkan hal yang sama merupakan sedikit banyak adalah penyelewangan kesepakatan Rapimnasus, JK juga menyatakan ternyata beberapa Parpol juga mengalami hal yang sama.

 

Partai Demokrat merupakan Partai yang aman dari politik pecah belah, bahkan Andi Malarangeng dalam satu kesempatan di stasiun tivi beberapa kali berkata “Biarlah Golkar mengurus permasalahan internal partainya terlebih dahulu, saya memahami rekan-rekan Golkar sedang mengalami permasalahan”… Saya heran, Dalam tindakan JK yang langsung memanggil seluruh ketua DPD dan menyelenggarakan konferensi Pers yang menyatakan solidnya partai Golkar, kok sempat-sempatnya Andi M mengeluarkan statement itu? Ataukah ada sesuatu di balik ini….?

 

Sedikit flashback, PDI decade 1990-an juga mengalami hal yang sama, di kala ada the rising star yang diberi mandat menjadi ketua umum, Pemerintah merasa ini ancaman, kemudian dibuatlah Pimpinan baru versi pemerintah. Ujungnya kedua partai itu pecah, korban berjatuhan dan peritiwa itu mengawali gejolak reformasi. Saat itu tidak banyak yang berani mengupas hal-hal seperti ini, dan mengakibatkan dalam diri satu partai terus dipecah-belah.

 

Masih ingat juga dalam Forum PPP diwarnai aksi walkout Bapak Bachtiar Hamsyah karena ketidakpuasan terhadap Suryadharma Ali. Bahkan berita gress dari Rakernas PAN di Yogyakarta memberi kesan pandangan politik berbeda antara Sutrisno Bachir dan Amien Rais. Bisa dibaca dalam http://pemilu.detiknews.com/read/2009/05/02/191752/1125246/700/putuskan-koalisi-dengan-demokrat-sb-tak-hadir

Motifnya selalu sama pada kedua partai ini, Ketua Umum dekat ke partai lain(SB ke Gerindra dan SDA ke PDIP) tetapi ketua MPP (Majelis Pertimbangan Pusat) atau sejenisnya DIDEKATI partai lain… Amien Rais sebagai King Maker menghasilkan keputusan koalisi ke PD, sayang Bachtiar Hamsyah gagal mengarahkan keputusan sejenis di PPP. Ditarik ke belakang PKB juga sudah berhasil dipecah, kali ini langsung melalui ketua umumnya Muhaimin Iskandar yang dipecah dari ketua Majelis Dewan Syuro, Pengadilan mengesahkan PKB versi Muhaimin alhasil PKB versi Gus Dur tidak berkutik. PPP, PAN, PKB, merupakan partai-partai yang memiliki suara besar (sekitar 15-20%) dan sungguh berbahaya jika tidak dipecah belah, mungkin itu anggapan pihak yang memecah belah..

Tetapi, meminjam kata-kata salah satu dari 100 tokoh berpengaruh, “Marilah kita menatap ini semua dengan jernih, hati yang bersih”, “Jangan kira saya tidak tahu siapa beliau-beliau itu di masa yang lalu”…”Marilah kita berkompetisi dengan sehat,” dll..dsb.. Saya akhirnya berkesimpulan semua ini terjadi secara alamiah dan tidak ada yang mengatur, merupakan konflik internal saja…bukan begitu?

 

Tetapi bisa saja kan Amien Rais, Bachtiar Hamsyah, dan Muhaimin Iskandar diarah-arahkan oleh Kompeni model baru? Uppps..gak lah, ini semua alamiah kok, memang konflik internal saja, biarlah masing-masing partai itu mengurusi konflik mereka. Benarkah ini konspiratif? Benarkah ini dari satu pihak tertentu? Biarkan saja, mudah-mudahan rakyat bisa mengetahui yang sebenarnya….betul kan?

5 thoughts on “Partai Politik terkena Devide et Impera?

  1. nusantaraku

    Dalam politik, tampak sekali semua orang hilang idealis tatkala melihat kue kekuasaan.
    Khusus PAN, saya cukup miris dengan Pak Amien. Dalam bukunya yg saya baca : Selamatkan Indonesia – Agenda Mendesak Bangsa”, semuanya memberi semangat untuk semua rakyat Indonesia agar bangkit dan mendukung suatu perubahan dan tidak bertekuk lutut dengan para pemimpin yang lebih menyesejahterakan kaum kapitalis. Namun, politikus dengam mudah mengatakan “kita mendekat ke pihak yang menang dalam kekuasaan”, padahal kita tahu bahwa track record pihak yg dideatin AR selama ini secara diam-diam menganggarkan ratusan triliun membayar utang najis, menghapus subsidi dan membentuk UU BHP atas tekanan IMF, WB, ADB, agenda privatisasi 44 BUMN. Disisi lain, korupsi dana DKP 2004 bisa dengan mudah diselesaikan dengan jabat tangan.
    Bukankah track record “beliau-beliau” masa lalu tidak jauh berbeda dengan yang mengeluarkan statemen tersebut?
    Bangkitlah Bangsaku, bangkitlah Jiwa Mental Rakyat Indonesia agar cerdas dari pembodohan!
    Biarlah partai yang haus kekuasaan pecah berkeping2 karena devide at impera.
    Tanpa utuhkan jiwa bangsaku yang cerdas dan bermartabat!

    Suka

    Balas
    1. romailprincipe Penulis Tulisan

      Nusantaraku nih keras juga komennya..mau ta tambahi mas? ah gak ah..nti malah dikira anti pemerintah.. hihi
      Amien, bisa saja malah mengganjal SBY di tengah jalan jika 2009-2014 SBY terpilih, toh sejarah berbicara kan?
      Sebenarnya tim ekonomi nya tuh yang keterlaluan, Kepala Negara kan mempercayai para Menteri en Gubernur..PAdahal 2 jagoan Ekonominya adalah calon Wapres nya juga..gimana yah kriteria tim Perekonomian itu sukses?Malah yang kayak pak Kwik Kian Gie gak terpakai karena titik..titik..kali ya..

      Suka

      Balas
  2. nusantaraku

    Hanya ingin menyampaikan aspirasi.
    Karena dalam berbagai kesempatan saya mengamati bahwa parpol tdak lain tdak bukan ajang merebut kekuasaan. Bukan mengutamakan perjuangan “otak” untuk membela kepentingan rakyat dengan ikhlas. Jika menyuarakan aspirasi, seperti biasanya mereka minta uang “lelah” berpikir.
    Jika perpecahan terjadi dalm partai, maka kita harapkan masyarakat jangan terpecah. Saya khawatir jika perpecahan partai biasanya men’tameng”kan masyarakat kecil.
    Oleh karena itu, masyarakat kita harus bersatu padu : bela yang benar, kritisi yang salah.
    Hmmm…..ga usah ditambahin…sudah cukup, ntar kritikan terhadap kebijakan pemerintah dikatakan anti pemerintah. Jika kritik terhadap oknum politisi oposisi, ntar dikatakan anti PDI…dan seterusnya.
    Salam

    Suka

    Balas
  3. yanu...

    setuju dengan mas Nusantara…
    satu-satunya partai yang saya percaya juga sepertinya sekarang haus akan kekuasaan, yah, padahal dulu niatnya hanya dakwah, sekarang seperti sedang terombang-ambing oleh kepentingan kekuasaan…
    atau mungkin itu strategi politiknya?

    yah, yang jelas pusing jadi orang Indonesia, kasian pahlawan yang udah mati-matian memperjuangkan kemerdekaan…

    salam kenal..
    http://y4nuk3ren.wordpress.com

    Suka

    Balas
  4. Ping balik: Golkar Baru Bergaya « Romailprincipe Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s