Lembur ?—-[Haruskah]—


Setiap karyawan yang bekerja di kantor, pabrik, ruko ataupun supir pribadi rasanya mengenal lembur. Apakah lembur merupakan sesuatu yang menyenangkan? Apakah lembur membuat arus kas kita lebih sehat? Perspektif mana yang kita pakai dalam memandang lembur? Berbagai maca hal detail menarik bisa dikupas dalam lembur. Sebenarnya kepingin juga mengumpulkan opini-opini lain mengenai lembur, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, tetapi biar deh tulisan ini murni pengalaman saya dulu.

Menghitung Lembur

Lembur merupakan aktifitas yang harus dilakukan karena pekerjaan tidak bisa diselesaikan dalam waktu normal (8 jam jika 5 hari kerja). Rumus perhitungan upah lembur menurut Undang-Undang adalah :

Upah Lembur = 1/173 x jam lembur x Gaji Pokok.

—–> download keputusan Menteri 102 tahun 2004

Sedangkan jam lembur untuk 1 jam pertama dihitung 1,5 x sedangkan untuk jam ke-2 sampai jam ke-7 dihitung 2 x, mulai jam ke-8 dan seterusnya dihitung 3 x

Contoh sederhananya adalah sebagai berikut :

Jika saya karyawan dengan Gaji Pokok Rp 1.200.000 dan jam kerja saya 8 jam sehari (jam 08.00 s/d jam 17.00), jika suatu kali saya lembur sampai jam 19.00 tanpa istirahat ke-2 maka upah lembur saya = 1/173 x 3,5 x 1.200.000 = Rp 24.277. Jam lembur 3,5 karena saya lembur 2 jam, 1 jam pertama kena tariff 1,5 x dan lembur 1 jam berikutnya kena tarif 2 x.

Efektifitas Lembur

Dasar dari seorang karyawan untuk lembu sebenarnya cukup sederhana sebenarnya, yaitu SPL (Surat Perintah Lembur),  Namun di beberapa kondisi hal ini sulit berjalan. Level Penyelia atau Manager sekalipun pada prakteknya jarang memperhatikan mengenai SPL. Pada akhirnya SPL dikeluarkan oleh level pekerja clerk yang tentunya juga sangat memerlukan lembur untuk meningkatkan pendapatan. Bisa dibayangkan?

Bahkan pada salah satu perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), salah seorang rekan sempat bercerita bahwa Jam lembur diisi oleh dirinya sendirinya. Tentunya ini baik dari segi penghasilan, tetapi tidak baik dalam mendukungProduktifitas perusahaan dan Integritas karyawan (apakah terdengar terlalu ideal)??

Sebenarnya saya tidak terlalu suka lembur karena beberapa hal (subjektif saya nih…) :

  1. Mengurangi interaksi pekerja dengan keluarga, sehingga emosi sosial kita sebagai karyawan tidak terpenuhi.
  2. Menumbuhkan mental kerja buruk, mengharap upah lembur serta kerja diperlambat. Hal ini menumbuhkan pekerja-pekerja yang tidak punya keinginan berprestasi mencapai posisi baik.
  3. Kerjasama tim tidak berjalan, karena memikirkan pekerjaan sendiri yang harus diselesaikan dengan lembur.

Sedangkan dari sisi perusahaan alasan menekan lembur adalah :

  1. Biaya naik. Jelas sekali, jika tingkat input bisa dikurangi dengan output yang sama, maka untuk apa lembur?
  2. Membayar orang yang sudah lelah bekerja (8 jam kerja), sehingga ada dugaan kerja lembur tidak produktif jika tidak terpaksa.
  3. Jika karyawan harus masuk pada jam yang sama keesokan harinya, maka secara fisik atau emosi diduga karyawan tidak akan optimal, karena hari-hari sebelumnya kelelahan.

Menekan Lembur?

…..Bukan dengan memotong hak, tetapi lebih kepada mengendalikan…

Beberapa hal kecil saya sempat pelajari dalam menemukan keseimbangan yang tepat ketika menentukan lembur. Fakta bahwa banyak perusahaan yang mengkebiri jam lembur juga saya temukan, semisal satu perusahaan di gresik yang memang load kerjanya tinggi hanya memperbolehkan staffnya lembur maksimal 2 jam per hari padahal faktanya jam lemburnya per hari bisa mencapai 4-5 jam. Tidak heran jika turnover karyawan di perusahaan itu tinggi.

Cara untuk menekan lembur bukanlah mengkebiri lembur, atau membudayakan loyalitas. “Tolonglah wahai para penyelia atau manajer, gunakan sedikit akal pikiran untuk mendesain keseimbangan lembur pada perusahaan!!!”. Menekan jam lembur tanpa mengkebiri hak orang dan mengorbankan produktifitas karyawan adalah hal yang cukup sulit, saya pernah mengambil resiko shift untuk menekan lembur, akibatnya biaya gaji membengkak, saya pun dimarahi habis-habisan, namun saya punya data bahwa performance saya lebih baik dengan bekerja shift.

Tips untuk mengendalikan lembur adalah :

  1. Identifikasi dan list seluruh detail elemen pekerjaan yang harus diselesaikan.
  2. Mengenali beberapa kemungkinan detail elemen pekerjaan yang akan berpotensi menyebabkan lembur..
  3. Susun karyawan berfokus pada point 1 dan detailkan agar selama 8 jam kerja karyawan bisa efektif dan menyelesaikan seluruh yang harus dikerjakan.
  4. Untuk point 2 maka tidak ada pilihan, hal ini tidak bisa dihindari dan datang tidak regular, maka lembur harus dijalankan, perhatikan siapa yang lembur. Sebisa mungkin usahakan karyawan dengan Gaji pokok paling kecil yang dilemburkan karena pada perhitungan upah lembur akan lebih kecil dibandingkan karyawan dengan gaji pokok yang besar.
  5. Jika point 1 memunculkan biaya lembur yang sangat besar dan sudah mendekati 50%-70% biaya gaji karyawan, maka rancanglah pekerjaan untuk dibagi dalam 2 shift, ingat biaya lembur sangat tinggi berarti kita membayar orang yang sudah lelah, mungkin hanya bekerja sebesar 1/3 kapasitas sesungguhnya, jauh lebih untung jika membayar orang baru dengan sistem shift.
  6. Kendalikan lembur lebih dari 7 jam, jika memungkinkan hilangkan. Karena lembur lewat 7 jam dikenakan tarif 3, tentunya memang lebih akan menekan biaya. Lembur lebih dari 7 jam biasa terjadi pada hari libur.

Ukuran keberhasilan menekan lembur :

  1. Biaya gaji tetap, Biaya lembur turun dan Output yang dihasilkan Tetap atau malah Naik.
  2. Biaya gaji naik (a), Biaya lembur turun (b) dan Output yang dihasilkan Naik (c) dengan syarat c tidak boleh lebih kecil dari a-b.

Permasalahan adalah pada saat point c (output) banyak yang tidak terhitung secara angka, semisal kepuasan kerja, kebersihan kantor, faktor kelelahan, dll dsb. Namun jika variable ini dicapai maka dugaan saya hasil secara angka akan menyusul pada bulan berikutnya, tinggal tergantung kita dan atasan kita sabar atau tidak?

Prinsipnya, kerja cerdas dan berkualitas. Kuantitas jam kerja belum tentu signifikan dengan produktifitas. Mari menghitung lembur untuk produktifitas tinggi…Yupz..!!

Tulisan lain Romailprincipe mengenai pekerjaan

3 thoughts on “Lembur ?—-[Haruskah]—

  1. mikha_v

    Tapi saya setuju kok alasan subyektif anda. Manusia kan bukan robot yang diprogram untuk bekerja. Melainkan manusia adalah makhluk sosial. “Bahan bakar” manusia bukan hanya duit, tapi juga hubungan sosial juga dengan team kerja dan keluarga.

    Satu lagi, manusia perlu istirahat. Kalau tidak istirahat, badan tidak segar. Justru malah kontraproduktif 😀

    Suka

    Balas
  2. Ping balik: Penerapan Lean Manufacturing pada Aktifitas Pergudangan « Romailprincipe Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s