Menghadapi kematian (2)


Link Kesehatan nih

Hebat janjinya pemerintah.. Satu fakta yang aku dapet nih, mungkin sangat subjektif

Baru aja pasien yang di rawat satu kamar dengan ibu meninggal dunia. Selidik punya selidik pasien yang bersangkutan seharusnya dirawat di ICU (Intensive Care Unit) mengingat kondisinya sudah memprihatinkan dan memerlukan penanganan level ICU.

Namun apa yang terjadi? Sebelum dirawat di ICU dia harus memberikan deposit senilai Rp 20 juta. Sekarang saja, jika kira-kira anda yang membaca, coba apakah anda mampu mendepositkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?

Saya rasa meski anda (atau pembaca) adalah pengguna internet dalam frekuensi yang sering, belum tentu ada uang sebesar itu. Begitu hal nya dengan si ibu, kurang nya uang cash membuat nya tidak bisa menikmati layanan terbaik. Alhasil keluarganya memutuskan pindah ke ruangan saja dengan tarif Rp 400.000 per hari (hanya kamar) dengan deposit kira-kira Rp 5.000.000. Pagi pindah, maka siang nya pasien tersebut meninggal. Sungguh saya tidak memprotes keputusan Tuhan, yang saya pikirkan hanyalah “apakah cerita bisa lain jika dia punya uang Rp 20 juta?”… Rumah sakit tempat ibu saya dirawat bukanlah rumah sakit elit akan tetapi pelayanan ke orang kecil sungguh sangat minim. Rumah Sakit Pemerintah? Jangan tanyakan, sungguh buruk fasilitasnya, pelayanan suster dan dokter pun sangat rendah kualitasnya.. Banyak keluarga dengan kantong pas-pas an (harusnya bisa masuk rumah sakit pemerintah) tetapi terpaksa memutuskan pindah ke rumah sakit swasta karena terlalu buruk nya pelayanan rumah sakit pemerintah. Apa yang terjadi? Apakah pemerintah gagal memberi fasilitas kesehatan bagi rakyatnya? Apakah kesehatan demikian mahal?

Pemerintah sangat mendengung-dengungkan JamKesMas ataupun fasilitas Asuransi Kesehatan, dan banyak hal lain yang menurut Pemerintah telah berjalan dan berhasil. Melihat klaim pemerintah mengenai jaminan kesehatan yang telah berjalan, maka patut dipertanyakan bagian mana yang berhasil? Apakah Presiden tidak pernah mengawasi bagian ini? Apakah Menteri kesehatan tidak pernah mensurvey kebijakan rumah sakit di Indonesia? Atau Presiden dan Menteri Kesehatan tidak memandang penting masalah ini, cenderung duduk di kursi yang empuk, di balik meja dan membaca laporan dari kepala dinas, Dirjen, atau apapun itu yang merupakan anak buah mereka? Uups, jika demikian kasihan sekali mereka, dengan KEBERHASILAN yang mereka kira itu.

Saat anak buah saya menghitung satu item barang dan melaporkan bahwa hasil perhitungan sama dengan stock komputer, maka tugas saya memastikan apakah benar demikian, jika tidak demikian maka saya adalah seorang supervisor tolol yang dibodoh-bodohi oleh laporan ciamik dari bawahan saya, padahal barang saya sudah hilang dalam jumlah banyak?

troublemaker1

Mungkin bacaan ini tidak solutif, hanya sekedar menghimbau Presiden dan Menteri Kesehatan untuk mau memperhatikan masalah biaya rumah sakit, biar bagaimana kami adalah rakyat mu, BLT baik, semua kebijakan mu baik, tapi kalau terasa kurang bagaimana? Apakah masih bisa dibilang berhasil?

Jadi crosscheck lah segala laporan anak buah kalian di lapangan, sampling dan periksai sedetail mungkin. Jangan bilang “tidak sempat”, “Tidak mungkin”, “Saya percaya pada bawahan”, dan lainnya yang hanya menggambarkan Kemalasan kita. Tapi detailkan lah satu hal, pastikan sedikit saja, mudah-mudahan lebih membuat semua konsep2 yang telah “berhasil” itu lebih berhasil..Go Presiden n Go MenKes..

One thought on “Menghadapi kematian (2)

  1. evangozali

    berobat di rumah sakit swasta juga kebanyakan biayanya mahal sekali, seharusnya rumah sakit pemerintah bisa memberikan pengobatan dengan biaya lebih murah..

    semoga ibunda bapak cepat sembuh 🙂

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s