Rakyat Merdeka Sabtu 13 Juni 2009,
“Tidak Baik Saling Hantam Di Depan Rakyat”
SBY mengaku banyak mendapat telepon dan SMS. Isinya mem pertanyakan, kenapa tidak melawan ketika di keroyok.
“Curhat” SBY disampaikannya saat mengawali kampanye terbuka Pilpres 2009, di GOR Ken Arok, Ko ta Malang, Jawa Timur, kemarin.
“Saya menjawab SMS dan telepon itu: tidak udah cemas, meskipun dike royok, ada Allah, …
Orasi SBY dalam Membangun Pemerintah Bersih Untuk Rakyat pada kampanye di GOR Ken Arok Malang tersebut kembali mengingatkan rakyat pada waktu-waktu lalu, dimana kondisi dizalimi merupakan kunci utama untuk menaikkan popularitas. Dalam menempatkan diri dizalimi yang diduga bersumber pada peristiwa monolog Butet pada deklarasi Pemilu Damai. SBY menempatkan diri untuk menempatkan diri pada keroyokan-keroyokan yang dilakukan pihak lain. Benar saja, ketika melakukan orasi saja teriakan “huuuu…..” sudah membahana, terlebih ketika SBY mengapresiasi kinerja KPU yang menurutnya harus disyukuri karena Pileg 2009 telah berjalan aman, dia lupa membahas carut marut DPT saat itu. Mungkin orasi itu adalah counter dari statemen beberapa menit sebelumnya dari Megawati yang mengkritik keras KPU karena molornya jadwal Deklarasi Damai Pilpres.
Keroyokan macam apa sih yang sebenarnya dirasakan? Mana bukti SMS dan Telepon yang menganjurkan bapak melawan keroyokan? Jika bertemu dengan SBY saya sangat ingin menanyakan hal itu. SBY dan Boediono dalam orasi politiknya penuh mengajak untuk berkompetisi secara sehat, tetapi sehari kemudian counter politik dari partai Demokrat mengenai monolog Butet sudah terkesan menuduh dan menempatkan capres atau cawapres lain dalam kondisi memesan Butet. Apakah benar Butet dipesan?
Dalam setiap statemen dan seluruh kegiatan sungguh menempatkan merasa dizalimi sangat efektif meningkatkan popularitas, apakah akan banyak yang memilih SBY Boediono karena merasa dikeroyok dan dizalimi…?